| Jumat, 06 Januari 2006 | EKONOMI |
Garuda Minta Dana Talangan, Bayar Utang 56 Juta Dolar ASJAKARTA-PT Garuda Indonesia berharap pemerintah bisa memberikan pinjaman sejenis bridging loan (dana talangan) untuk membayar utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo sebesar 56 juta dolar AS. ''Garuda sebetulnya mengharapkan semacam bridging loan dari pemerintah,'' kata Menteri Perhubungan Hatta Radjasa seusai Rakor Ekuin tentang beras di Kantor Menko Perekonomian kemarin. Dana talangan itu, menurut Hatta nantinya bisa digunakan Garuda untuk melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) utangnya. Diharapkan, jika masalah ini selesai, Garuda dapat melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO). Hatta menilai, dengan dilakukannya IPO, maka Garuda akan memiliki kekuatan finansial yang dapat mengatasi persoalan keuangan yang menimpa BUMN perusahaan penerbangan tersebut. Rencana IPO ini, ungkap Hatta, merupakan bagian dari grand strategy Garuda ke depan yang telah disampaikan ke Departemen Perhubungan. ''Tapi kapan dilakukan IPO tergantung dari keputusan DPR dan Meneg BUMN,'' tuturnya. Selain memerlukan talangan, Garuda sebenarnya memerlukan modal kerja sekitar 50 juta dolar AS. Namun untuk masalah ini, harus melalui pembicaraan antara DPR dan Meneg BUMN. Hatta menambahkan, yang diperlukan Garuda bukan hanya dana untuk bayar utang atau modal kerja, tapi bagaimana menghadapi persaingan global. Saat ini total utang Garuda sekitar 800 juta dolar AS. Utang itu kepada kreditor European Export Credit Agency (ECA) sebanyak 515 juta dolar AS. Utang mandatory convertible bond (MCB) sebesar 130 juta dolar AS yang terdiri dari MCB Angkasa Pura I dan II sebesar 34 juta dolar AS dan Bank Mandiri senilai 96 juta dolar AS. Sisanya berupa utang promissory note sebesar 130 juta dolar AS.(bn-33) |