logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Januari 2006 EKONOMI
Line

Ekspor Jateng Masih Bersandar pada Pasar Tradisional

SEMARANG-Kondisi ekonomi yang memburuk tak menyebabkan penurunan angka ekspor Jateng tahun 2005. Beberapa komoditi, bahkan menunjukkan peningkatan cukup signifikan bila dibandingkan tahun sebelumnya. Di antaranya ekspor produk dari batu, semen dan gips yang mencapai hingga 962,79%.

Angka ekspor nonmigas Jateng hingga Oktober 2005 senilai 2.343,1 dolar AS atau tumbuh 11,13%. Tahun sebelumnya angka itu hanya mencapai 2.108,4 dolar AS. Meski nilai ekspor mengalami peningkatan, menurut Pemimpin Bank Indonesia Semarang Amril Arief penopang perekonomian di Jateng masih didominasi sektor konsumsi, dengan persentase kontribusi sebesar 70%. Sedangkan sektor ekspor hanya 11%.

Begitu pula dengan sektor investasi yang belum begitu menonjol. Karenanya, dia berharap peningkatan angka ekspor ini mampu ditingkatkan.

''Kami mengharapkan perekonomian bisa berkelanjutan. Ekonomi suatu negara harus ditopang investasi dan ekspor yang tinggi. Jangan hanya menitikberatkan pada sektor konsumsi,'' katanya saat ditemui di ruang kerjanya Kamis (5/1).

Pasar Baru

Lebih lanjut dia mengatakan, di lihat dari negara tujuan ekspor pun hingga kini masih memprihatinkan. Pasalnya eksporter masih mengandalkan pasar tradisional, seperti Amerika, Jepang, dan Eropa. Sehingga untuk masa mendatang perlu mencari pasar-pasar baru.

Begitu juga dengan proses produksi. Menurut dia, produk Indonesia belum mampu memenuhi kualitas yang diinginkan pasar. Padahal kualitas produk merupakan modal untuk mampu bersaing dengan produk negara lain.

''Apalagi birokrasi dalam proses ekspor masih ''antri'' (berbelit-belit) di pelabuhan. Kendala seperti ini seharusnya bisa dibenahi,'' katanya.

Amril juga mengakui adanya kenaikan harga minyak dunia menjadi 75 dolar AS yang mempengaruhi permintaan ekspor.

Produk-produk utama ekspor Jateng masih bertumpu pada mebel, tekstil, pakaian jadi, kayu dan produk kayu.

Sedangkan semua produk ekspor yang mengalami pertumbuhan, antara lain filamen buatan, kain perca, perabot dan penerangan rumah.

Sementara itu, angka impor 2005 mengalami pertumbuhan sebesar 1,81% dari tahun sebelumnya dengan nilai 1.140,9 dolar AS. Produk-produk impor yang masih tinggi antara lain mesin-mesin, pesawat mekanik, kapas, dan peralatan listrik. (mhr-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA