| Jumat, 06 Januari 2006 | EKONOMI |
Aktiva Bersih Reksa Dana 2006 Tumbuh 20%JAKARTA-Perusahaan manajer investasi PT Fortis Investments memprediksikan industri reksa dana tahun ini akan mengalami pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) sebesar 20% dengan dukungan edukasi pasar. Presiden Direktur Fortis Investments Eko B Pratomo mengatakan hal itu di Jakarta kemarin. Proyeksi pertumbuhan NAB itu, disebabkan suku bunga diperkirakan bakal menurun. Penurunan suku bunga akan berdampak positif bagi pasar reksa dana. Khususnya, reksa dana saham, campuran dan reksa dana terstruktur. Namun, lanjut dia, pemasaran reksa dana terstruktur yang merupakan produk baru ini, membutuhkan edukasi lebih lanjut. ''Jika dihitung dari kondisi pasar seperti itu, mestinya pertumbuhan terjadi di reksa dana maupun obligasi. Kami perkirakan tumbuh 20 persen,'' jelasnya. Disebutkan, investor Indonesia umumnya memiliki pendekatan investasi jangka pendek. Namun pertumbuhan reksa dana ekuitas dan campuran yang signifikan tahun lalu memperlihatkan jika investor berupaya mencari alternatif investasi yang memberikan return menarik. Untuk meningkatkan pertumbuhan reksa dana itu, dia menilai pendidikan profil risiko investor dan produk sangat penting. Kepercayaan Pasar Sebelum ini, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah memandang pembangunan kembali sektor reksa dana akan membutuhkan penjagaan stabilitas dan pembangunan kepercayaan pasar. ''Belajar dari kasus pencairan (redemption) reksa dana secara besar-besaran, membuat pemerintah menyadari dan menyatakan akan mempelajari kesalahan dalam pengelolaan reksa dana di sepanjang 2005. Kemudian akan membangunnya kembali dengan volume yang cukup,'' paparnya. Dia menyebutkan, perdagangan surat utang negara (SUN) berkaitan dengan kondisi ekonomi makro. Karenanya stabilitas yang bisa mempengaruhi ekspektasi pelaku maupun calon pembeli perlu dijaga. ''Stabilitas sangat penting untuk dijaga, sehingga ekspektasi membaik dan akan membuat beban pemerintah untuk mengelola utang -dalam hal jual beli surat utang- akan jauh lebih mudah,'' jelasnya lagi. Namun Menkeu, yang akrab dipanggil Ibu Ani itu, menyadari volume perdagangan SUN tidak bisa dibangun secara instan. Artinya, faktor kepercayaan menjadi salah satu kunci penentunya. ''Kami ingin membangunnya secara bertahap, sehingga menimbulkan kepercayaan lebih sustainable. Kita tidak ingin volume meningkat secara cepat, tapi tiba-tiba nilainya habis hanya gara-gara faktor spekulasi yang lebih dominan ketimbang faktor fundamental,''ungkapnya. (bn-33) |