logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 SALA
Line

Dinkes Periksa Kandungan Kimiawi Makanan

KARANGANYAR-Tim Polres, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi serta instansi terkait, kemarin, memeriksa produsen makanan yang rentan bercampur bahan kimia berbahaya. Mereka mengambil sampel makanan di beberapa produsen mi basah, tahu, kerupuk karak, bakso, dan saus tomat.

Makanan itu dikhawatirkan mengandung bahan berbahaya seperti formalin (pengawet mayat), boraks, rodamin B (pewarna tekstil), dan pewarna tekstil. "Kami baru mengambil sampel makanan itu untuk diuji di laboratorium," kata Kepala Seksi Kefarmasian dan Pengawasan Obat Dinas Kesehatan Anik Dwiyanti, kemarin.

Dia menyatakan jika kelak makanan itu diketahui mengandung bahan kimia berbahaya, produsennya bisa diminta menghentikan produksi dan menarik produk itu dari pasaran.

Kepala Bagian Operasional Polres Komisaris Polisi Bambang Purwadi menambahkan, dalam pemeriksaan tim baru memeriksa dan membina. Namun kelak diikuti penindakan, jika terbukti makanan tersebut mengandung bahan kimia berbahaya.

Makanan yang diduga kuat mengandung boraks adalah kerupuk rambak dan karak. Sebab, pembuatannya menggunakan bleng. Bahan kimia utama dalam pembuatan kerupuk itu disinyalir mengandung boraks.

"Padahal, hasil tes kandungan bahan kimia berbahaya harus nol atau sama sekali tak mengandung bahan kimia," kata Anik.

Sementara itu, penjaga sebuah kedai bakso mengakui bakso produksi sendiri itu tahan dua-tiga hari. Selain itu tekstur yang keras dan kenyal menguatkan kecurigaan bakso itu dicampur formalin.

Namun Anik menyatakan belum bisa memastikan ada kandungan formalin atau tidak dalam bakso itu. Yang jelas ukuran bakso cukup besar, bagian tengah banyak bakteri E-coli yang bisa menimbulkan diare. "Sebab, yang terkena pemanasan hanya di luar. Jadi bakteri di dalam berkembang biak," katanya.

Di Boyolali

Penggunaan formalin dalam makanan cuma 0,1%. Jadi tak langsung menimbulkan efek samping pada kesehatan konsumen. Namun bila terus-menerus dikonsumsi akan menimbulkan efek samping berupa pengerasan hati.

"Itulah yang berbahaya," kata Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Boyolali Syamsudin, kemarin.

Pedagang bakso goreng, Joko Sarsono (25) warga Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, menuturkan sejak kemerebakan kabar pencampuran bahan kimia dalam makanan dagangannya tak terpengaruh. Sehari dia menjual 600-700 butir bakso goreng. Dia kulak dari seorang pengusaha dan menjualnya di sekolah-sekolah.

Syamsudian menyatakan melalui pengamatan visul makanan bercampur formalin mudah diketahui. Misalnya, tahu dicampur formalin agak keras.(G18,shj-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA