| Kamis, 05 Januari 2006 | SALA |
Jembatan Semadoh Jebol
BOYOLALI - Talut Jembatan Semadoh di Dukuh Semadoh, Desa Sumur, Kecamatan Musuk, Boyolali, kemarin sekitar pukul 14.00, ambrol. Akibatnya, hubungan antara Desa Lanjaran dan Sumur, Musuk, terputus. Arus lalu lintas pun kembali seperti semula, menggunakan jembatan gantung yang membentang di atas Kali Semodoh. Talut jembatan sepanjang 4 m itu ambrol akibat tergerus hujan sepanjang hari. Sebelumnya talud lama di bawah jembatan sudah terguling, disusul talut baru. Karena guyuran hujan deras talut amblas ke dasar kali. Padahal, jembatan itu belum diresmikan karena baru saja dibangun ''Ketika jembatan ambrol, saya berada di pinggir dan mengetahui betul saat talut amblas ke sungai,'' kata Sumarno (25), warga Sumur, kemarin. Pembangunan jembatan itu dibiayai APBD Jawa Tengah tahun 2005 Rp 950 juta. Dana pendamping APBD Boyolali sekitar Rp 100 juta. Jembatan sepanjang 12 m dan lebar 4 m itu dikerjakan CV Bima Agung, Semarang. Sebelum jembatan dibangun, sarana transportasi menggunakan jembatan gantung. Kini, untuk menuju ke Sumur atau Lanjaran harus memutar melalui Pasar Tamansari. Jarak pun bertambah 8 km. Anggota Fraksi Partai Keadilan dan Sejahtera (FPKS) DPRD Jawa Tengah, Mahmud Mafud, yang melihat jembatan itu pekan lalu menduga jembatan tersebut menyalahi bestek. Lokasi pembangunan jembatan bergeser sekitar 5 m ke barat atau ke atas dari rencana semula. Jadi tepat di bekas jembatan lama. Selain itu talut jembatan sebelah selatan tak dikerjakan. Ketua Komisi III DPRD Boyolali, Isha Anshori, menyatakan sebelum talut ambrol sudah mengingatkan rekanan dan eksekutif agar segera membenahi jembatan yang tak memenuhi persyaratan itu. Apalagi pancang jembatan dipasang di lokasi yang tak semestinya. Ambrolnya talut membuktikan jembatan itu tak memenuhi persyaratan teknis. Dalam waktu dekat dia akan mengundang rekanan dan dinas terkait. Jembatan itu sangat strategis. Jadi harus segera diperbaiki. Sementara itu pelaksana pembangunan Jembatan Semadoh, Rahman, menyatakan talut jembatan ambrol murni bencana alam, bukan kesalahan bestek. Banjir akibat hujan sepanjang hari menerjang talut itu sehingga amblas ke dasar sungai. Apalagi tanah di sekitar jembatan pun longsor. Di Karanganyar Jembatan Plampaian yang merupakan penghubung antara Desa Sentono dan Tawangsari, Kecamatan Kerjo, Karanganyar, ambrol sepanjang 8 m dan selebar 7 m. Kini jembatan itu hanya bisa dilalui sepeda motor. Jika dilewati kendaraan roda empat dikhawatirkan bakal runtuh. Tak pelak, distribusi barang, arus kendaraan roda empat, dan angkutan pedesaan pun terpaksa memutar melalui jalan lain dengan medan cukup berat. "Sebelumnya jembatan itu retak sedikit demi sedikit sejak tiga pekan lalu. Lama-lama melebar. Beberapa hari lalu jembatan ambrol sehinga separo lajur menganga," ujar Darsono, warga Dusun Pathi, Desa Sentono, Kecamatan Kerjo, kemarin. Dia menuturkan warga desa menutup lubang di jembatan dengan anyaman bambu. Mereka khawatir jembatan bakal ambrol jika kendaraan roda empat tetap lewat. Karena itu rute mobil dialihkan ke jalur lain. Akibatnya, jarak tempuh menjadi lebih jauh. Jika tak segera ditangani, hujan cukup deras bakal memutus jembatan itu. Sebab, separo bagian sudah ambrol sehingga konstruksi jembatan tak bakal kuat diterjang arus air sungai yang deras. Camat Kerjo Endang Tidar menyebutkan jembatan yang dibangun tahun 1970 itu terkikis hujan deras beberapa hari terakhir. Tingkat kerusakan 80% dan cukup membahayakan dilalui roda dua. Dia memperkirakan konstruksi dan usia teknis memperparah kondisi jembatan yang direnovasi tahun 1993 itu. Konstruksi jembatan hanya berupa pasangan batu kali, bukan beton. Berdasar perhitungan tim Dinas Pekerjaan Umum dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) serta Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, total kerugian akibat kejadian itu Rp 400 juta. "Jembatan itu rusak parah sehingga harus dibangun ulang. Tak mungkin tambal sulam. Diperkirakan pembangunan ulang menelan anggaran Rp 400 juta," kata Endang. Kini, makin panjanglah daftar jembatan yang ambrol terkikis hujan. Sebelumnya Jembatan Kaliwalikan di Desa Jatiyoso, Kecamatan Jatiyoso, juga ambrol. Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Jatiyoso (Karanganyar) dan Girimarto (Wonogiri) itu ambrol sepanjang 6 m dan memutus jalur distribusi barang kedua wilayah tersebut. ((shj,G18-53) |