| Kamis, 05 Januari 2006 | SALA |
Catatan Festival Bonraja 2005 (2-Habis)Diragukan dan Dikhawatirkan KeberlanjutannyaMESKI Heru Prasetya dari Mataya Production mengakui, masih banyak kekurangan pada pelaksanaan Festival Bonraja 2005, secara umum kegiatan yang mengoordinasi tempat pertunjukan, aktivitas seni, dan bisnis produk kerajinan di kompleks Sriwedari serta 51 kelurahan itu tergolong sukses. Drs Dwi Niyatno, pejabat di Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Surakarta yang bertindak sebagai koordinator penyelenggara festival tersebut pun mengakui kesuksesan itu. Dalam penilaian penyelenggara memang ada plus dan minus pada festival kali pertama di Taman Sriwedari atau Kebon Raja itu. Sisi yang menggembirakan adalah kebangkitan seniman dan budayawan bersama pemerintah untuk mencoba menghidupkan lagi citra peninggalan sejarah agar menjadi lebih hidup. Lewat gerakan yang menyentuh semua lini potensi seni budaya sampai ke dalamnya tentu ada getaran untuk kembali beraktivitas demi kejayaan kembali Taman Sriwedari. Apalagi pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya serta Mataya Production memberi jaminan akan melanjutkan kegiatan itu pada tahun ini. Bahkan jadwalnya sudah tersusun. ''Festival ini harus berlanjut dan ke depan diharapkan lebih baik. Kalau yang pertama masih ada kekurangan di sana-sini maka bisa dimaklumi. Namun yang akan datang harus lebih baik,'' tegas Dwi Niyatno. Tak hanya soal plus dan minus sajian festival, Dwi juga tidak menampik ada anggapan kegiatan itu sebagai upaya nggondheli (memegang erat-Red) Kebon Raja agar tidak tenggelam atau musnah ketika proses hukum alih tangan kepemilikannya benar-benar terwujud kelak. Sama dengan Heru, dia dan instansinya sebagai kepanjangan tangan pemerintah tidak ingin memasukkan urusan aktivitas festival ke wilayah sengketa soal kepemilikan Taman Sriwedari yang kini sudah ada di tangan Mahkamah Agung. Visinya sama dengan kalangan seniman dan budayawan, yakni citra dan kejayaan Kebon Raja harus kembali diangkat. Tempat itu lumayan luas, ada di tengah kota, punya karisma bagus, serta layak menjadi ajang kreativitas dan ekspresi warga, khususnya di bidang seni budaya. Kelanjutan Keyakinan itu juga tercermin dalam sarasehan mengenai Kebon Raja yang menghadirkan pembicara dari Fakultas Teknik UNS dan Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) di Pendapa Joglo saat festival berlangsung. Dwi Niyatno menyatakan simpatinya karena hampir semua instansi di lingkungan Pemkot Surakarta bisa mengikuti sarasehan yang memimpikan Taman Sriwedari tetap berkibar sepanjang masa. "Akan tetapi apakah festival ini bisa berlanjut? Jangan-jangan semua sudah susah payah mempersiapkan untuk berfestival tahun 2006 tetapi ternyata tidak ada kelanjutannya,'' ungkap salah seorang peserta sarasehan. Darmadi SSn, pemimpin Sanggar Tari Metta Budaya juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. Festival yang diselenggarakan 26-31 Desember 2005 itu sepi dari sosialisasi dan publikasi, sehingga berkesan tidak mendapatkan perhatian karena banyak yang tidak tahu. Pemimpin Padepokan Lemah Putih (Mojosongo) Suprapto Suryodarmo selaku koordinator pelaksana festival sangat memaklumi keraguan dan kecemasan itu. Menurut dia, meski sudah didukung beberapa sponsor, nilai nominal untuk membiayai seluruh kegiatan tersebut hanya Rp 7,5 juta sebagai wujud dukungan pemerintah yang disalurkan lewat Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya. ''Ya bagaimana lagi la wong dana yang tersedia hanya Rp 7,5 juta. Itu saja sudah didukung empat perusahaan yang memberi sumbangan. Kalau sosialisasi kurang dan gregetnya tidak ada, itu karena memang peluru (dana-Red) terbatas. Mudah-mudahan tahun ini lebih memadai,'' ujar seniman senior yang menekuni olah gerak tubuh dan banyak muridnya berasal dari mancanegara itu. Sebagai salah satu bukti festival akan berlanjut, selain ungkapan beberapa tokoh di atas ternyata panitia ''Festival Bonraja 2005'' sudah menyusun jadwal tahun ini. Berbagai kegiatan antara lain apresiasi dongeng, baca geguritan, lomba menulis Jawa, serta lomba dakon, cekcu, dan sebagainya sudah disusun baik waktu, tempat, maupun tim yang menangani. Tempat yang akan digunakan kemungkinan bukan hanya Museum Radya Pustaka, Pendapa Joglo, WO Sriwedari, dan bagian lain kompleks Kebon Raja, melainkan bisa ke luar kompleks Sriwedari jika diperlukan. Daya dukungnya pun sudah disiapkan, misalnya Sanggar Tari Metta Budaya, Sarwi Retno Budoyo, Suryo Sumirat, dan Sahita yang akan terlibat dalam pentas-pentas tari serta pengorganisasiannya. Grup-grup kesenian di kampung-kampung semacam santiswaran, keroncong, dan dangdut bisa ditampilkan bergilir. Semua berharap pertunjukan-pertunjukan itu bukan sekadar kegiatan murah meriah di akhir tahun serta karisma Kebon Raja sebagai ikon Kota Solo makin kuat. Namun ada harapan festival juga punya dampak ganda, antara lain mampu menggerakkan seluruh aktivitas seni budaya baik di sanggar-sanggar tari, kelurahan-kelurahan, Pura Mangkunegaran, maupun Keraton Surakarta sehingga menjadi tujuan wisatawan domestik dan asing setiap saat. ''Termasuk Festival Keraton Nusantara V 2006 waktunya sudah dekat sehingga perlu sosialisasi segera. Festival Bonraja itu positif karena bisa untuk mengondisikan persiapan Kota Solo sebagai tuan rumah FKN,'' tandas GRAy Koes Moertiyah, Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta. (Won Poerwono-27v) |