| Kamis, 05 Januari 2006 | PANTURA |
Tim Tak Temukan Penggunaan Bahan PengawetBATANG - Setelah dua hari meneliti industri tahu dan kerupuk, tim gabungan Kantor Perindustrian dan Perdagangan bersama Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Dinkessos) Kabupaten Batang, kemarin (4/1) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pengolahan ikan. Kepala Kantor Perindag Drs Sukardi Paputungan menyatakan, dari hasil peninjauan di pengolahan ikan, tak satu pun dijumpai menggunakan bahan formalin. "Namun untuk lebih jelasnya, kami mengambil contoh ikan untuk diperiksa di Laboratorium Makanan dan Minuman di Semarang, karena di Batang belum ada," ujarnya. Kali pertama yang ditinjau, industri pengolahan ikan segar Usaha Dagang (UD) Sinar Laut milik Hj Rosita di Kampung Seturi Kelurahan Karangasem Utara Kecamatan Batang. Di tempat itu, tim yang dipimpin Kepala Kantor Perindag Drs Sukardi Paputungan melihat proses pengolahan ikan segar untuk dibuat filet. "Proses pengolahan ikan di sini benar-benar alami. Tidak ada tambahan obat-obatan, apalagi formalin," tutur Hj Rosita. Menurut dia, ikan segar dalam bentuk filet itu setiap hari dikirim ke Jelambar, Jakarta, dan Palembang. Daging tersebut biasa digunakan untuk campuran bakso atau dibuat pempek. "Ikan yang masuk di tempat kami, biasanya datang pukul 03:00. Setelah dijadikan filet yang dibuang kepala dan ekornya, tinggal daging segar dicuci kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik dan langsung dikirim," jelas Neneng Dewi Ariyani, putri Hj Rosita. Dalam sehari, paling tidak ada dua ton filet yang dikirimkan. Dia menjamin tidak ada bahan pengawet. "Produk kami juga selalu dikirim ke laboratorium." Selain pengolahan ikan segar, UD Sinar Laut juga membuat ikan asin dan tepung ikan. Semua bahan baku diperoleh dari nelayan di TPI Klidanglor. "Khusus untuk pembuatan ikan asin, sedikit berbeda dari bentuk filet. Sebab, ikan itu biasanya sudah diberi garam ketika masih di kapal, sehingga begitu datang dari TPI langsung dikeluarkan isi perutnya dan dijemur," ungkap Hj Rosita. Menurut dia, merebaknya isu penggunaan formalin tidak mengurangi produksinya. Setiap hari, UD Sinar Laut mengirimkan ikan asin sebanyak lima ton dengan tujuan pemasaran di Bandung dan Garut. Sehari Tidak adanya obat-obatan pengawet itu, diakui beberapa peternak itik yang setiap harinya membeli limbah di tempat itu. Alasannya, kalau ada yang menggunakan pasti hewan peliharaannya tidak mau makan. "Kalau sisa ikan ini ada campuran formalin, itik tidak mau makan. Karena itu, saya yakin pengolahan ikan di sini tidak ada yang menggunakan bahan pengawet," papar Umanah, peternak itik. Dia menyatakan, untuk keperluan 400 itiknya, setiap harinya membutuhkan 60 kg limbah hasil pengolahan ikan. Biasanya terdiri atas bagian kepala, ekor dan duri dengan harga Rp 500/kg. Sidak dilanjutkan di TPI Klidanglor. Saat itu, sebagain ikan masih berada di dalam keranjang. Namun, secara sepintas juga tidak ditemukan adanya ikan yang diformalin saat masih dalam kapal. Hal itu dijelaskan oleh Kepala TPI Brahmantyo, yakni kebanyakan tangkapan ikan yang dilelang itu dari hasil one day fishing (melaut sehari). "Kebanyakan nelayan di sini berangkat malam pulang pagi, kemudian langsung dilelang. Jadi ikannya masih segar karena baru ditangkap." Produksi ikan yang dilelang di TPI Klidang Lor mencapai dua ton hingga 2,5 ton/hari. Sementara tahun 2005, total produksi mencapai 616.579 ton. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Drs H Wiharto Saputro MM berharap, industri ikan ataupun nelayan agar tidak mencoba-coba menggunakan bahan pengawet. Karena hal itu justru akan merugikan diri sendiri. Pertahankan produksinya untuk menggunakan bahan-bahan alami dan higienis. Di samping itu, selalu menaati anjuran dari Perindag. "Kalau menggunakan formalin itu sama saja membunuh diri sendiri. Namun saya bersyukur, di Batang tidak ada industri pengolahan ikan yang diketahui menggunakan bahan pengawet," jelas Wiharto. (ar-52d) |