logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 PANTURA
Line

Jalan Putus, Warga Dua Desa Terisolasi

BREBES - Dua desa di Kecamatan Bantarkawung, Brebes, yakni Pangebatan dan Tambakserang, terisolasi sejak Selasa (3/1) malam karena putusnya jalan utama di Desa Waru. Kedua desa tersebut dihuni penduduk sebanyak 6.132 orang.

Jalan terputus dengan panjang 30 m dan lebar 5 m, dengan kedalaman lebih dari 20 cm. Penyebab putusnya jalan diduga karena hujan yang terjadi tiga hari berturut-turut. Struktur tanah yang labil akhirnya longsor. Akibatnya, jalan ambles dan tidak dapat dilalui sepeda ataupun kendaraan.

Masyarakat sekitar memberi rambu-rambu sebagai tanda bahwa jalan tersebut tidak dapat dilewati. Hingga saat ini, warga bergotong royong mengupayakan perbaikan agar jalan tersebut dapat segera dilewati.

Jalan Darurat

Mereka membuat jalan darurat dengan cara menumpuk potongan kayu pinus yang ditata di sepanjang jalan. Meski demikian, upaya tersebut tidak menjamin seluruh kendaraan dapat lewat.

Selain licin, tumpukan potongan kayu tersebut juga labil. Terlebih, apabila hujan terus berlangsung, tepi jalan diperkirakan akan longsor kembali, sebab berbatasan langsung dengan jurang yang kedalamannya lebih dari 25 m.

Kepala Kantor Kesbanglinmas Sutriyono SH MM mengatakan, pihaknya saat ini mengupayakan perbaikan jalan yang putus tersebut.

Apalagi, jalan itu merupakan jalur utama yang menghubungkan Desa Pangebatan dan Tambakserang. Pihaknya, dalam waktu dekat akan melakukan upaya darurat perbaikan dengan menggunakan batu.

Terancam

Di Desa Mlayang Kecamatan Sirampog, Selasa (3/1) malam terjadi longsor di dua tempat. Akibatnya, lima desa terancam terisolasi. Lima desa itu terdiri atas Benda, Kaliloka, Manggis, Buniwah, dan Gigirklanceng. Padahal, sedikitnya 22.703 jiwa tinggal di desa tersebut.

Longsor di titik pertama terjadi di sebelah timur kantor Kepala Desa Mlayang, sepanjang 20 m dengan lebar 2 m dan kedalaman 1,5 m. Sementara itu, kerusakan kedua terjadi di Dukuh Penjarakan, dengan panjang jalan yang rusak mencapai 15 m, lebar sekitar 0,5 m, dan kedalaman 30 cm.

Menurut Camat Sirampog Abdul Khamid SH, kerusakan jalan disebabkan oleh hujan terus-menerus yang mengakibatkan lapisan tanah di bawah aspal tergerus.

Jalan tersebut kini hanya dapat dilewati kendaraan roda dua. Dikhawatirkan, apabila hujan deras kembali mengguyur daerah tersebut, jalan akan putus total dan menyebabkan kegiatan ekonomi masyarakat yang mayoritas petani sayuran, terhambat.

Untuk mengantisipasi agar lebar longsoran tidak bertambah, warga secara bergotong royong memasang kayu pancang di tepi jalan itu. Meski demikian, dikhawatirkan apabila terjadi hujan deras, kayu pancang yang dipasang tidak mampu menahannya, sehingga tanah tetap longsor.

Sebab, di tepi jalan tersebut juga terdapat jurang yang curam. Selain itu, upaya sama juga pernah dilakukan saat terjadi longsor beberapa waktu lalu. Namun hasilnya, kayu pancang tidak kuat dan jalan kembali longsor. (H17-61d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA