logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 OLAHRAGA
Line

Mirza: Jangan Campuradukkan Agama dan Olahraga

HONG KONG - Bintang tenis India Sania Mirza merasa jengah karena banyak orang yang mencampuradukkan antara obsesi dengan keyakinan yang dianutnya. Karena itu, dia meminta agar orang lebih banyak menyoroti karirnya.

Petenis putri berusia 19 tahun yang dijuluki pelopor bagi wanita muslim India itu mengatakan, orang harus berhenti memusingkan profesi dan keyakinannya. "Saya pikir, semua orang mencampuradukkan agama dan olahraga. Saya adalah atlet dan agama adalah sesuatu yang sangat pribadi," katanya.

"Ya, saya memang muslim tetapi saya tidak mengerti kenapa hanya saya yang ditanyai tentang agama saya. Semua orang memiliki agama, saya ingin tahu mengapa orang lain tidak ditanyai mengenai hal itu".

"Saya merasa, hal itu adalah masalah yang sangat pribadi. Itu adalah pilihan pribadi saya dan saya tidak merasa perlu untuk memberikan alasan saya kepada orang lain."

Mirza menjadi berita besar di media pada 2005 saat ia menjadi petenis putri India pertama yang memenangi WTA Tour dan peringkatnya pun naik 100 dan kini berada di posisi 34. Tetapi ia menuai kritik dari penganut Islam konservatif yang mengatakan bahwa ia berpenampilan setengah telanjang di lapangan saat bertanding dan hal itu sangat bertentangan dengan agama yang dianutnya.

Kemudian, ia pun berkomentar bahwa melakukan seks sebelum nikah dapat dibenarkan. Tetapi, perempuan asli Hyderabad yang akan memulai musim ini dengan mengikuti Champions Challenge di Hong Kong itu mengatakan, ia telah belajar untuk tidak terlalu menggubris pandangan orang lain mengenai dirinya.

"India adalah negara besar dengan jutaan orang dan pendapat, tetapi biarkan saja demikian," katanya. "Tugas saya adalah memberikan 100 persen waktu saya di tenis dan biarkan raket saya berbicara. Jika saya memikirkan pendapat orang lain setiap waktu, maka saya tidak akan dapat bermain dengan baik."

"Saya telah belajar pada tahun lalu bahwa setiap orang tentu memiliki pendapat berbeda dan tergantung kepada saya apakah akan memikirkannya. Saya pikir, pendapat orang lain tidak akan menggantu saya selama saya melakukan yang terbaik."

Namun demikian, Mirza mengaku sangat senang dengan banyaknya harapan setelah ia memenangi Hyderabad Terbuka dan melaju ke babak ketiga Australia Terbuka dan babak keempat AS Terbuka.

"Saya pikir, semua orang berharap saya dapat mengerjakan semua hal, bahkan mungkin pekerjaan yang tidak dapat saya lakukan tetapi itu semua bagian dari konsekuensi yang harus saya jalani dan kita harus dapat menerimanya," katanya.

"Terkadang, harapan itu juga memotivasi saya. Saya menyukai tekanan dan saya pikir hari ketika saya tidak lagi menyukai tekanan akan menjadi hari di mana saya akan berkata saya tidak akan bermain lagi. Saya suka bermain jika orang mengharapkan sesuatu."

Inspirasi Gadis India

Ia juga mengaku senang bisa menjadi panutan remaja di India yang lebih mengenal kriket tetapi ia mengatakan tenis semakin populer di India. "Saya menyukai fakta di mana saya menjadi inspirasi banyak remaja putri terutama di India, terutama di daerah di mana kriket menjadi olahraga terpopuler di India," katanya.

"Banyak orang mulai bermain tenis sekarang dan saya sangat gembira dan saya pikir hal itu akan sangat membantu perkembangan tenis. Saya berharap, tenis akan menjadi besar dan kami tidak hanya memiliki satu tetapi banyak petenis India yang muncul."

Mirza yang baru saja menyelesaikan latihan servis dan voli dengan pelatih Tony Roche berharap akan menjalani musim yang lebih baik tahun ini. Tetapi, terlepas dari cedera pergelangan kaki dan punggung yang mengharuskannya absen selama lima bulan, dia mengatakan tidak akan mengubah gaya permainannya yang agresif. (ant-28)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA