| Kamis, 05 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Demi Prestasi, Bunga Tinggalkan Jakarta ke SemarangAGAK ironis apa yang dilakukan oleh Bunga Marsondang Siregar. Hanya untuk mengejar prestasi di cabang olahraga sepatu roda, atlet yang semula bergabung dengan Klub Monas Jakarta itu rela memboyong kedua orang tuanya dari Ibu Kota ke Semarang, untuk kemudian bergabung dengan Klub Ikos. Alasannya cukup sederhana, hanya ingin dilatih oleh Achmad Bahtiar. Sebab setelah Klub Ikos ditangani pelatih Abah -- panggilan Achmad Bahtiar -- sering menjadi juara di berbagai kejuaraan antarklub, menenggelamkan Monas DKI yang sebelumnya sulit dibendung. Lewat ambisi yang begitu membara, lalu kedua orang tuanya diboyong ke Semarang, me-ngontrak rumah tipe 21 di Kampung Karangbendo RT II/RT 3 Kelurahan Karangrejo. Karena itu, ayahnya harus sering pulang balik Semarang-Jakarta, sebab sampai saat ini masih aktif sebagai karyawan Badan Kepegawaian Negara (BKN) DKI. "Tidak ada alasan lain kecuali hanya ingin mengejar prestasi yang lebih baik. Sebab klub ini dilatih oleh Abah (Achmad Bahtiar-Red), yang merupakan pelatih terbaik di Indonesia saat ini. Klub Monas juga bagus, tetapi Klub Ikos lebih bagus, sehingga kami dan keluarga rela meninggalkan DKI," jelas Bunga, seusai latihan kemarin. Seperti yang sudah dibuktikan oleh Abah di PON XVI Palembang September 2004 lalu, berhasil membawa tim Jateng juara umum PON, dengan menggondol tujuh medali emas. "Saya nekat pindah ke Jateng, hanya ingin meraih medali emas di PON XVII Kaltim," tandasnya. Hasilnya sudah dirasakan, sejak gabung dengan Ikos, mulai awal Januari 2005 lalu. Hasil kejuaraan nasional (Kejurnas) di Silang Monas beberapa hari lalu, gadis kelahiran Jakarta, 27 Januari 1992, itu sudah bisa menyumbangkan satu medali emas dan dua medali perunggu. Atau paling tidak, Bunga bisa memberi harapan baru di PON XVII Kaltim, tahun 2008 mendatang. Selain harapan medali emas dari nomor perorangan, tenaganya juga bisa menambah kekuatan untuk nomor beregu putri, terutama nomor relly (estafet). Demi Prestasi Anak Dilihat dari bakat dan usia yang masih muda, Bunga yang kini masih duduk di kelas III SMP Fransiskus Semarang, bukan tidak mungkin di Jateng akan memunculkan atlet putri yang baru, seperti yang sudah dibuktikan oleh Ajeng Anindya. Apalagi putra tunggal keluarga Marsondang Siregar itu mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Hasilnya, dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan. Seperti ketika turun di nomor 10.000 m point to point (PTP) di Silang Monas beberapa hari lalu. Selain berhak atas medali emas, Bunga juga berhasil mengumpulkan enam poin, jauh lebih bagus dari prestasi Dela asal Jatim, yang berhak atas medali perak, yang hanya mampu meraih empat poin, Andri peraih medali perunggu. "Demi prestasi anak semata wayang ini kami rela berkorban segala-galanya, termasuk jarang berkumpul dengan keluarga. Saya lebih sering di Jakarta terkait dengan pekerjaan," kata ayah Bunga, Marsondang Siregar. Akan tetapi Marsondang mengaku tidak ada masalah, karena setelah anaknya dipoles selama hampir satu tahun oleh pelatih asal Jabar tersebut, mulai menampakkan hasil. "Memang sejak turun di kelompok A, B, C, dan D Bunga selalu meraih medali emas, namun setelah dilatih Abah catatan waktu anak saya lebih tajam." (Mundaru Karya-28v) |