| Kamis, 05 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Delapan Karateka Pilar Medali Asian GamesJAKARTA- Delapan karateka akan menjadi pilar Indonesia dalam meraih medali emas di Asian Games (AG) Qatar 2006. Kedelapan karateka tersebut adalah Umar Syarief, Christo Mondolu, Bambang Mauliddin, Tely Melinda, Jenny Zeannet dan Puspa Meonk. Dua karateka lainnya adalah Nurahmi dan Donny Darmawan. Hasil koordinasi antara pengurus PB Forki (Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) dan pelatih menentukan delapan atlet tersebut yang akan dijadikan pilar inti timnas. Sejauh ini, enam nama telah dipastikan menghiasi tim inti itu. Sedang dua sisanya masih dalam taraf penggodokan. "Nurahmi dan Donny sementara ini masih kami siapkan. Kemungkinan besar memang mereka yang akan masuk mendampingi Umar dkk," kata Kabid Binpres PB Forki Madju Dharyanto Hutapea, kemarin. Madju mengatakan, delapan atlet tersebut, sejauh ini merupakan yang terbaik. Kendati begitu, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perubahan."Kami tetap memikirkan pelapis untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan misalnya cedera," ungkapnya. Masuknya delapan nama karateka ini memang tidak terlalu mengejutkan. Umar merupakan juara dunia summer camp di Jerman, Agustus 2005. Dia yang diharapkan dapat meneruskan tradisi emas karate di AG. Seperti diketahui, delapan tahun lalu karate merebut emas lewat Arif Taufan (Bangkok 1998). Empat tahun kemudian di Busan 2002, giliran Hasan Basri yang merebut supremasi tertinggi itu. Hanya, kepastian delapan karateka ini menghapus kesempatan nomor kata tampil di multievent empat tahunan itu. Dari delapan karateka itu, memang semuanya karateka nomor kumite (pertarungan). Soal ini, Forki memiliki alasan tersendiri. "Kami telah berhitung secara cermat menghadapi AG ini. Peluang kata sangat kecil lantaran di situ ada Jepang," jelas Madju. Latihan ke Eropa Pada kesempatan terpisah, pelatih nomor kata Omita Olga Ompi menyatakan hal senada. Mantan atlet nasional ini menyebut Jepang masih mendominasi nomor kata dunia. Dari delapan karateka yang diberangkatkan, Madju optimistis target satu emas itu akan tercapai. Asalkan, kata Madju, KONI Pusat menyetujui usulan Forki tentang rencana ujicoba selama 10 bulan ke depan. Dalam hal ini, Forki menginginkan timnas karateka harus menjalani uji coba minimal 22 kali. Perhitungan itu dipakai berdasar persiapan SEAG (South East Asia Games) Filipina 2005. Ketika itu, karate menjalani 11 kali ujicoba dalam rentang waktu 5 bulan pelatnas. Madju mengatakan, bila karate tetap ingin meraih hasil maksimal, maka setidaknya harus menjalani ujicoba dua kali lipat dari SEAG lalu. Itu pun dengan syarat tambahan, KONI Pusat juga menyetujui usulan ujicoba ke beberapa negara Eropa. "Eropa telah menjadi kekuatan utama di kumite. Mekanisme latihan juga tersusun modern, tak lagi bersifat tradisional," ucapnya. "Yang pasti, uji coba itu harus dengan lawan yang kekuatannya di atas kita. Kalau di dalam negeri, tidak akan efektif karena timnas sudah berada di atas karateka non pelatnas," tegasnya. Forki punya alasan mendasar mengapa uji coba harus banyak dilakukan di Eropa. Menurut Madju, negara-negara pecahan Rusia memiliki tipikal gaya bertarung ala Eropa. Padahal, negara-negara itu termasuk pesaing utama Indonesia untuk merebut emas. Yang pasti, Forki telah mengambil langkah cepat untuk persiapan AG. (D3-28) |