| Kamis, 05 Januari 2006 | WACANA |
Karya Arsitektur Gubernur JatengOleh Abu Su'udBANYAK bangunan arsitektur yang indah dan monumental yang dikaitkan dengan tokoh penguasa. Barangkali hanya karena ia memiliki gagasan untuk pembangunan itu. Monumen Taj Mahal di India dikaitkan dengan Sultan Sah Jahan dan Menara Qutuba Minar dikaitkan dengan Qutbudin Aibak sebagai penguasa di saat itu. Masjid Istiqlal di Jakarta selalu dikaitkan dengan Bung Karno yang memiliki gagasan untuk membangun masjid yang monumental itu sebagai peringatan atas kemerdekaan Indonesia. Kita tahu bahwa Istiqlal berarti kemerdekaan Indonesia. Istiqlal berarti kemerdekaan. Di kota Semarang juga terdapat sejumlah bangunan yang dikaitkan dengan tokoh yang sedang berkuasa. Misalnya Masjid Besar Kauman dikaitkan dengan Pangeran Pandanaran bupati pertama di Semarang. Masih banyak lagi bangunan indah dan monumental di Semarang dikaitkan dengan gubernur Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang. Tulisan ini menampilkan sejumlah bangunan yang didirikan oleh atau atas prakarsa atau atas perintah gubernur selama masa pemerintahannya. Ternyata hampir setiap gubernur menunjukkan kepeduliannya untuk menghiasi Semarang dengan bangunan indah dan monumental. Tidak banyak yang mengetahui dengan pasti bangunan tersebut dibangun atas prakarsa siapa atau dibangun dalam masa kepemimpinan gubernur yang mana. Orang menganggap Tugu Muda, Lawangsewu dan Wisma Perdamaian di Jalan Pemuda merupakan tengara-tengara kota atau land - mark bagi kota Semarang, seperti halnya Monas maupun Masjid Istiqlal merupakan tengara kota Jakarta. Selain bangunan itu sebetulnya Semarang memiliki sejumlah bangunan yang bisa pula dianggap sebagai tengara kota, seperti Masjid Baiturahman, Gedung Berlian, maupun Masjid Agung Jawa Tengah. Yang menarik, bangunan tersebut didirikan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. Masing-masing bangunan itu memiliki keunikan sendiri. Kapan bangunan itu didirikan? Dalam masa kepemimpinan siapa yang menjadi gubernur? Semangat tulisan ini adalah untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak untuk melengkapi informasi yang akurat, sehingga lengkap untuk menjadi sebuah buku. Masjid Di Semarang terdapat banyak sekali masjid yang memiliki keistimewaan dan nilai arsitektur tinggi. Masa sebelum kemerdekaan telah menghadiahkan masjid Besar Kauman, yang merupakan monumen berkaitan dengan sejarah berdirinya Semarang. Sejak memasuki masa kemerdekaan sejumlah gubernur telah menghiasi kota dengan beberapa masjid yang unik. Di tengah kota Semarang, di kawasan bisnis yang dikenal sebagai kawasan Simpang Lima pada tahun 1974 berdiri sebuah masjid megah berlantai dua, dengan arsitektur Jawa, yang ditandai dengan bentuk atap limasan. Bahkan pada bagian interior yang digunakan sebagai mihrab dan mimbar dibangun pula sebuah atap joglo sebagai aksesoris. Simpang Lima pada masa itu dijadikan sebagai kawasan budaya oleh gubernur Munadi. Di masa gubernur penggantinya dengan perlahan namun pasti kawasan budaya itu berubah menjadi kawasan bisnis. Di bekas bangunan GOR (Gedung Olah Raga) kini berdiri Hotel Ciputra dan pusat perbelanjaan Pasaraya Citraland. Di bekas Gedung Pertemuan Wisma Pancasila dibangun pusat perbelanjaan Matahari. Sementara itu bekas Pasaraya Mikey Morse (kini perbelanjaan elektronik Court ) telah banyak kali berganti pemilik, namun masih tetap untuk pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan Ramayana, dulunya gedung bioskop Gajah Mada. Sementara itu kompleks pendidikan STM Pembangunan masih tetap bertahan. Yang sampai sekarang berdiri pusat perbelanjaan dan perkantoran Gajah Mada Plaza semula disediakan untuk museum Jawa Tengah Ronggowarsito. Sampai sekarang orang masih was-was kalau-kalau kompleks Masjid Baiturahman akan disulap menjadi pusat perbelanjaan. Di bagian belakang kompleks kantor gubernuran pada awal tahun 1990 an berdiri bangunan masjid berlantai dua, meski tidak begitu besar. Nampaknya masjid itu disediakan untuk karyawan gubernuran serta para tamu gubernuran. Masjid itu nyaris tidak terlihat dari jalan besar Menteri Supeno, karena tertutup oleh bangunan serba guna berlantai lima yang dikenal sebagai Gedung Dharma Wanita. Bangunan-banguan itu didirikan di masa gubernur Suwardi, yang dinilai sebagai gubernur yang paling banyak membangun gedung. Di masa gubernur itu pula dibangun kompleks asrama Haji Donohudan yang dibangun di dekat Bandara Adisumarmo Surakarta. Tentu saja dalam kompleks untuk fasilitas peribadatan itu berdiri pula sebuah masjid bagi jamaah haji. Pada penghujung tahun 2005, selesai dibangun Masjid Agung Jawa Tengah terletak di Jalan Gajah.di masa gubernur Mardiyanto. Masjid tersebut memiliki berbagai fasilitas publik atau jamaah yang juga serba unggul. Ada auditorium serba guna yang berdesain mewah. Ada ruang perpustakaan lengkap dengan ruang pertemuan ilmiah. Ada juga selasar terbuka semacam teater di depan ruang tertutup masjid. Selasar itu bisa dikembangkan menjadi ruang tertutup karena memiliki payung fleksibel. Masih tersedia pula asrama atau penginapan bagi rombongan peziarah spiritual ke pusat-pusat ziarah makam para wali Masjid itu. Di sebelahnya berdiri menara dengan lantai atas yang bisa berputar yang berfungsi semacam menara pengintai pemandangan kota. Kompleks Pemerintahan Entah siapa yang merancang lokasi pusat perkantoran pemerintah, yang mencakup pemerintahan provinsi dan berbagai instansi, seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman, perdagangan maupun departemen lainnya, berada dalam satu jalan. Jalan itu juga dirancang sebagai sebuah boulevard, yang disebut Jalan Pahlawan. Panjang jalan itu relatif pendek, sekitar setengah km dan membujur lurus dari selatan ke utara. Jalan itu menjatu dengan Lapangan Simpang Lima, yang merupakan pusat berbagai acara keramaian rakyat maupun upacara bendera tingkat Jawa Tengah. Dimulai pembangunannya awal 1970 an, masa gubernur Munadi. Muhamad Ismail yang meneruskan kepemimpinan sebagai Lurahe Jawa Tengah mengembangkan Wawasan Identitas Jawa Tengah telah memperluas kompleks perkantoran Setwilda atau yang sering disebut gubernuran dengan Wawasan Identitas Jawa dengan ciri serba joglo. Semangat itu telah menghasilkan rangkaian tiga bangunan yang terdiri dari gedung pertemuan umum Gradika Bhakti Paja, bangunan Setwilda, dan Gedung Berlian sebagai pusat kegiatan para wakil rakyat. Pada masa gubernur Suwardi Wisma Perdamaian di kompleks Tugu Muda dilengkapi dengan tambahan dua bangunan. Gagasan itu nampaknya mengabaikan berbagai kritik warga masyarakat, yang menganggap bahwa corak dan gaya arsitektur bangunan tambahan tidak serasi dengan bangunan Wisma Perdamaian. Kompleks bangunan itu yang semula dimaksudkan sebagai kediaman resmi gubernur tidak difungsikan dengan benar. Sejak semula gubernur tidak pernah berkediaman di kompleks itu, dan gedung hanya dipergunakan untuk menyelenggarakan pertemuan, termasuk untuk lokasi tarawih warga masyarakat selama bulan Ramadan. Gubernur Mardiyanto hanya menempatinya selama masa bakti pertama, dan untuk selanjutnya lebih memilih Wisma Puri Gedeh. Namun acara open house dalam acara Hari Raya Idul Fitri tetap diselenggarakan di sana. Masih ada beberapa bangunan untuk fasilitas pemerintahan provinsi, seperti Bappeda di J Jl Pemuda Dipenda di Jl Imam Bonjol, serta gedung Samsat di dekat batas kota sebelah barat. Secara arsitektur bangunan-bangunan itu nampaknya tidak mengandung keunikan tertentu, sehingga tidak dimaasukkan sebagai karya arsitektur yang perlu diabadikan, meski memiliki kegunaan praktis tinggi. Wisata dan Olah Raga Masih ada dua bangunan milik provinsi Jawa Tengah di Semarang yang memiliki nilai arsitektur cukup membanggakan. Yang satu merupakan fasilitas wisata serba guna, yang dikenal sebagai kompleks PRPP. Yang kedua merupakan fasilitas olah raga, yang dikenal dengan nama GOR Jatidiri. Keduanya dibangun di masa gubernur Muhamad Ismail. Semangat Wawasan Jatidiri dari lurahe Jawa Tengah sangat melekat pada kedua bangunan serba guna tersebut. Sebagai fasilitas wisata gubernur leluasa memberi corak arsitektur Jawa, yaitu atap joglo menjadi ciri khas bangunan utama, yaitu Merapi dan Merbabu. Kedua-duanya menggunakan atap joglo serta desain interior yang bernuansa Jawa pula. Kegunaan kompleks bangunan itu disamping sebagai gelanggang promosi dagang yaitu Pekan Raya Pembangunan dan Promosi, bangunan utama biasa disewakan untuk penyelenggaraan resepsi pernikahan. Dalam kompleks tersedia fasilitas wisata, yang dikenal dengan nama Maerakaca. Unit itu merupakan semacam Taman Mini Jawa Tengah Indah, lengkap dengan anjungan-anjungan berupa bangunan-bangunan yang merupakan tengara kota yang mewakili kekhasan 35 kabupaten / kota se- Jateng. Di sana juga tersedia berbagai fasilitas untuk rekreasi dan wisata air. Fasilitas kedua adalah GOR Jatidiri. Nama GOR itu Jatidiri merupakan cerminan semangat dari gagasan gubernur Ismail. Kali ini bentuk fisik bukan atap joglo, melainkan pengabadian nama semangat itu, yaitu jatidiri. Obsesinya untuk memberikan ciri atap joglo pada setiap bangunan publik. Sebagai penutup tulisan, penulis sampaikan agar gagasan gubernur Mardiyanto segera mempersembahkan gedung perpustakaan untuk menunjang perkembangan keilmuan dan peradaban, sebelum masa bakti sebagai gubernur berakhir, segera terwujud. Kita harapkan pula agar secara arsitektur bangunan itu memancarkan nilai tinggi dan monumental. Semoga. (11) - Abu Su'ud anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang. |