| Kamis, 05 Januari 2006 | WACANA |
tajuk rencanaJawa Tengah Tak Luput dari Bencana- Baru beberapa hari bencana tanah longsor dan banjir melanda Jember, Jawa Timur, yang menewaskan lebih 60 orang dan menghancurkan ratusan rumah serta jembatan. Kemarin pagi, bencana serupa terjadi di Kabupaten Banjarnegara, tepatnya di Kampung Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu. Kabar sementara menyebutkan, ratusan rumah penduduk tertimbun tanah, meski belum diketahui secara pasti berapa jumlah korban yang tewas. Bencana tanah longsor juga terjadi di Brebes dan Boyolali, namun tak separah di Banjarnegara. Provinsi ini pun tak lepas dari bencana alam yang menewaskan ratusan orang dan merusak rumah penduduk dan bahkan ribuan ternak yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. - Tanpa disadari, atau mungkin sadar tetapi kurang peduli, banyak di antara kita hidup dalam bahaya, karena bencana alam bisa terjadi sewaktu-waktu. Pada musim seperti ini banyak terjadi banjir dan tanah longsor. Sering langkah antisipasi lemah dan baru teringat ketika sudah terlambat, karena bencana sudah menerpa. Banyak petunjuk yang diberikan lewat iklan layanan masyarakat, agar kita mewaspadai bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Daerah-daerah rawan pun sudah dikenali sehingga mestinya langkah pencegahan atau tindakan preventif lain bisa dilakukan. Sayang kita agaknya terlalu pasrah ataupun kurang memprioritaskan hal-hal seperti itu. Meskipun di sisi lain kapan datangnya bencana hampir tak mungkin diduga sebelumnya. - Kita merasa sedih dan prihatin melihat penderitaan penduduk yang terkena musibah tanah longsor di Banjarnegara. Terlebih lagi daerahnya yang terisolasi, karena dikelilingi medan yang sulit, membuat tindakan pertolongan serta evakuasi terhambat. Menyesali kejadian dan mempertanyakan mengapa tak ada deteksi dini, sudah tak ada artinya. Sekarang yang penting bergerak cepat menyelamatkan korban yang masih hidup, mengevakuasi korban tewas, memberikan bantuan makanan, obat-obatan, dan pakaian serta kemudian memperbaiki rumah tinggal yang rusak. Biasanya penduduk di sekitar tetap tak bersedia direlokasi, meskipun tahu daerahnya tergolong rawan bencana. Itulah salah satu wajah masyarakat kita. Maka persoalannya tak lagi sederhana. - Sebagian besar bencana diakibatkan oleh kerusakan alam baik berupa penggundulan hutan maupun eksploitasi hasil alam lainnya. Walaupun tentu ada yang murni karena hukum alam. Bencana tanah longsor di Jember, Jawa Timur, dan sekarang melanda Jawa Tengah belumlah seberapa dibandingkan dengan gempa dan gelombang tsunami yang melanda Aceh setahun lalu. Namun tidak boleh kita menganggapnya kecil dan sesuatu yang sudah rutin karena hampir berulang setiap tahun. Bagaimanapun bencana itu telah menewaskan puluhan bahkan ratusan orang dan menimbulkan kerugian material sangat besar. Bagaimanapun yang tertimpa musibah adalah saudara-saudara kita sehingga tak bisa hanya mendasarkan pada besar jumlah korban. - Kita hargai langkah cepat pertolongan baik yang dilakukan oleh pemerintah setempat, Palang Merah Indonesia (PMI), maupun pihak-pihak lain. Langkah cepat dan tindakan darurat dengan membuka dapur umum dan klinik berobat sangat penting. Justru pertolongan tahap awal inilah yang lebih menentukan, dan karena itu membutuhkan kesukarelaan serta kedermawanan tinggi. Para relawan menunjukkan jasanya, karena tanpa mereka berapa pun besar dana yang tersedia untuk membantu bencana atau berapa ton beras yang disiapkan, tak akan ada artinya. Penyampaian bantuan dan pertolongan pada korban adalah sebuah persoalan. Relatif sulit sehingga membutuhkan relawan serta tenaga-tenaga yang memiliki keterampilan dan pengalaman. - Tugas baru berakhir setelah para korban dan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal bisa memperoleh tempat tinggal dan memiliki pekerjaan kembali. Setelah berbagai sarana seperti jalan dan jembatan yang rusak diperbaiki. Kebutuhan dana lebih besar biasanya pada tahap rehabilitasi sehingga dibutuhkan uluran tangan dari masyarakat. Dan akhirnya, kita pun perlu mengambil hikmah atas berbagai musibah dan bencana seperti yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Hikmah itu antara lain perlunya menjaga keseimbangan alam, mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana dan melakukan deteksi sedini mungkin. Inilah yang paling sulit. Orang sering berpikir jangka pendek atau apa yang ada sekarang. Soal bencana urusan nanti. Masihkah kita akan seperti itu? |