logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 NASIONAL
Line

Tak Ada Kenangan Lagi di Madinatul Hujaj

JEDDAH - Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, bendera Sang Saka Merah Putih tidak lagi berkibar menghiasi jalan-jalan di sepanjang kompleks masuk Madinatul Hujaj, Jeddah.

Para pedagang cendera mata yang biasanya berjajar di sepanjang jalan juga seperti menghilang begitu saja. Demikian halnya dengan pendagang kaki lima, tak tampak satu pun.

Wartawan Suara Merdeka Muhammad Ali dari Jeddah melaporkan, penjual jasa seperti sopir taksi, juga tidak menandai keramaian di sekitar Madinatul Hujaj, menyusul adanya kebijakan peniadaan transit bagi jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke Tanah Air.

Kepala Daerah Kerja Makkah Zainal Abidin Supi menjelaskan, peniadaan transit di Madinatul Hujaj itu merupakan kebijakan Menteri Agama. Menag memandang asrama tempat transit jamaah di Madinatul Hujaj tidak representatif lagi.

"Tempatnya tidak layak, satu kamar diisi oleh 40 orang, tak ada AC, hanya ada kipas angin. Jadi kesannya seperti barak," kata Zainal.

Pada musim-musim haji sebelumnya, pada saat kepulangan ke Tanah Air, jamaah haji Indonesia ditransitkan terlebih dahulu di Madinatul hujaj , Jeddah, sebelum diterbangkan dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Tanah Air.

Transit selama 24 jam itu digunakan untuk proses pemeriksaan dokumen, seperti paspor dan penimbangan barang. Selain itu, di sela-sela waktu menunggu, dimanfaatkan oleh jamaah untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Jeddah.

Bagi jamaah haji Indonesia yang berangkat sebelum tahun ini, Madinatul Hujaj memang menjadi kenangan indah. Babul Makkah dan Babul Hawa menjadi bagian yang melekat dengan kota lama Jeddah. Demikian halnya dengan objek wisata pantai di Laut Merah dapat menjadi alternatif wisata bagi jamaah haji.

Arsitektur kota lama Jeddah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang berminat pada masalah-masalah bangunan lengkap dengan arsitekturnya.

Di Jeddah juga dapat ditemukan Masjid Al Qishas, tempat dilakukannya eksekusi mati bagi terpidana mati. Masyarakat muslim, termasuk jamaah haji, dapat menyaksikan prosesi hukuman yang terbuka bagi masyarakat umum.

Adapun bagi jamaah haji yang ingin membawa buah tangan untuk sanak kerabat dan famili di kampung halaman, Jeddah menjadi alternatif belanja yang murah.

Di selatan kota terdapat Balad dan Haraj, keduanya menyediakan berbagai keperluan yang relatif terjangkau bagi sebagian besar jamaah haji dari Indonesia.

Sekarang, setelah tidak ada transit di Madinatul Hujaj, maka jamaah dari Makkah atau Madinah langsung dibawa ke Bandara King Abdul Aziz.

"Sementara itu, proses penimbangan barang dilakukan di maktab-maktab oleh perusahaan yang kami tunjuk," jelas Zainal.

Ditambahkan, Pemerintah Arab Saudi berencana untuk membangun gedung-gedung untuk transit jamaah haji. "Memang Pemerintah Arab Saudi-lah yang berhak untuk itu."(60v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA