| Kamis, 05 Januari 2006 | NASIONAL |
Korupsi di Pertambangan Paling BesarJAKARTA- Potensi kerugian negara yang paling besar saat ini terjadi di sektor pertambangan. Karena itu, DPR didesak untuk mengkaji semua kontrak karya pertambangan Indonesia, yang saat ini dikuasai oleh perusahaan asing. Sementara itu, potensi kerugian negara yang ditimbulkan pun diperkirakan sejajar dengan kerugian negara dalam kasus bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Demikian dikatakan oleh mantan ketua MPR Amien Rais di ruang Fraksi Partai Amanat Nasional DPR, Senayan, Jakarta. Kedatangan Amien ke DPR adalah untuk memberikan catatan kaki dalam refleksi akhir tahun dan prediksi awal tahun. Menurutnya, desakan kepada DPR tersebut muncul akibat banyak indikasi terjadi korupsi di pertambangan. Bahkan dia menilai, korupsi sejati itu terjadi di pengelolaan pertambangan. "Semua korupsi selain kasus BLBI tampak sebagai korupsi kecil-kecilan, jika dibandingkan dengan korupsi di pertambangan. Karena itu, DPR harus mengkaji dan meneropong secara jelas apa sebenarnya yang terjadi di sektor pertambangan," katanya. Dia menuturkan, karena potensi korupsinya sangat besar, dapat mengakibatkan kerugian negara yang besar pula. Menurutnya, tiga kontrak karya pertambangan yang memiliki potensi merugikan adalah PT Freeport McMoran, BP Tangguh di Papua, dan pertambangan emas yang dikelola PT Newmont di NTB dan Sulut. "Kalau DPR mau berbuat baik dan berguna bagi rakyat serta negara, sebaiknya semua fraksi segera mengkaji kontrak karya pertambangan Indonesia dengan perusahaan swasta, terutama perusahaan asing itu. Ekologi yang hancur akibat beroperasinya Freeport sekitar 200 kilo meter persegi. Untuk memperbaikinya, memerlukan waktu ratusan tahun," ujarnya. Di samping itu, Amien mengungkapkan, kontrak karya I Freeport belum berakhir, namun sudah diperpanjang hingga 30 tahun lagi. "Dengan demikian, ratusan ton emas, perak, dan tembaga akan digotong ke luar negeri. Padahal itu sangat berpotensi merugikan negara," tuturnya. Sangat Murah Amien juga menyoroti kejanggalan BP Tangguh yang dikontrakkaryakan ke China selama 30 tahun dengan harga yang sangat murah. "Gas yang diambil harganya 2,6 dolar AS per MMBTU. Sementara harga pasarannya saat ini adalah 9 dolar AS. Jadi, selama 30 tahun kerugian kita mencapai triliunan rupiah. Selain itu, tambang emas di Newmont juga harus dibongkar, karena sudah merugikan bangsa kita selama ini," tandasnya Selain menyoroti kontrak karya pertambangan, mantan Ketua Umum PAN ini mengingatkan DPR akan makin besarnya penguasaan asing di sektor penerbangan domestik yang saat ini mencapai 56 persen. (sas-48t) |