logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 NASIONAL
Line

Melihat Daerah Sentra Produksi Beras (2-Habis)

Importir Swasta Merusak Harga


PETANI PROTES: Sejumlah petani protes di depan Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu. Mereka menuntut pemerintah membatalkan impor beras, karena hasil produksi petani dalam negeri masih mampu menopang kebutuhan konsumsi dalam negeri.(30t) -  SM/Antara

PENOLAKAN impor beras dengan alasan membantu dan membela petani, patut dipertanyakan. Sebab, mereka utamanya petani penggarap dan buruh tani tidak merasa dirugikan dengan kebijakan impor tersebut. Bahkan, sebagian besar petani ingin harga beras di pasaran murah, sehingga terjangkau.

Keinginan petani tersebut memang masuk akal, karena sebagian besar dari mereka sekarang tidak memiliki gabah lagi. Kalaupun mereka memiliki gabah jumlahnya tidak banyak dan hanya cukup untuk kebutuhan sendiri. Seperti yang dituturkan Saniman, petani Desa Bolo, Demak dan Ichsan, petani Desa Kertasari, Rengasdengklok, Karawang bahwa mereka hanya punya gabah untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Awalnya, Saniman ataupun Ichsan sangat marah ketika mendengar pemerintah mau mengimpor beras. ''Terus terang, waktu itu kami-kami ini nggak habis pikir, kok pemerintah nggak membela petaninya. Tapi malah membela petani asing,'' kata Saniman.

Tapi ketika dia tahu kalau impor beras yang dilakukan Bulog itu hanya untuk persediaan pangan nasional dan raskin, bukan untuk dijual dia merasa lega. ''Kalau untuk persediaan pangan dan raskin, ya monggo (silakan-Red) saja. Kami dukung impor, wong itu untuk rakyat yang nggak mampu kok. Gimana jadinya kita kalau pemerintah nggak punya stok dan kita kekurangan beras, bisa nggak makan,'' tuturnya.

Namun keduanya meminta agar pemerintah tidak memberi izin kepada perusahaan swasta untuk melakukan impor beras dalam bentuk apa pun, baik untuk penderita diabetes maupun menir. Sebab, yang mereka dengar, impor beras pecahan dan diabetes itu cuma akal-akalan importir agar bisa memasukkan beras. ''Mereka itulah yang merusak harga gabah petani. Merekalah yang harus diberantas,'' tegas Saniman.

Baik Saniman maupun Ichsan yang punya lahan dua hektare itu mengaku hasil padinya hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Artinya, hasil taninya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anaknya. ''Bara-bara dalam musim paceklik sekarang ini jual gabah, bisa bertahan hidup saja sudah untung,'' keluhnya.

Tampaknya, Ichsan yang hidup pas-pasan dari hasil bercocok tanam itu tidak sendirian. Sebab, petani di daerah-daerah lain seperti di Indramayu, Jawa Barat, lebih menderita darinya. Petani di daerah Indramayu, dalam musim paceklik kali ini ada yang makan nasi aking (nasi yang dikeringkan) atau karak di daerah Jawa Timur.

Umumnya, petani yang hidupnya serba kekurangan ini adalah petani yang punya lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare, bahkan hanya 0,25 hektare. Selain itu juga buruh tani dan petani penggarap. Mereka ini populer disebut dengan petani gurem dan jumlahnya jauh lebih besar dari petani yang memiliki lahan di atas 1 hektare. (Eko Suksmantri-29v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA