| Kamis, 05 Januari 2006 | NASIONAL |
Kisah Duka dari Bukit Pawinihan (1)Tertimbun Longsoran saat Wiridan di Masjid
DI ANTARA korban yang tertimbun longsoran tanah dari Bukit Pawinihan adalah jamaah Masjid Assa'adah yang sedang melakukan wiridan. Korban yang tidak bisa meloloskan diri adalah dua perempuan. Dua wanita separo baya yang hingga kemarin petang belum bisa diketahui namanya itu, menurut keterangan warga, seusai shalat subuh berjamaah tak langsung meninggalkan masjid. Mereka menyempatkan diri untuk berzikir. Sebab selepas shalat berjamaah cuaca berkabut, gelap, dan hujan masih turun. Kebiasaan itu juga sudah sering mereka lakukan. ''Yang lain sempat melarikan diri karena datangnya longsoran beberapa saat setelah shalat selesai,'' ujar Nasuri (50) dan Ny Sani (40) yang lolos dari maut. Saat azan berkumandang sekitar pukul 04.30, jamaah belum merasakan akan terjadinya bencana hebat itu. Karena itu, mereka yang datang untuk shalat subuh juga tergolong banyak. ''Ada sekitar empat saf (baris). Jamaahnya ada sekitar 40 orang,'' jelas Ny Sani. Mereka yang lolos sebagian juga ada yang ikut tertimbun. Sebab saat mereka keluar masjid, longsor sudah datang dan langsung menerjang satu dusun. ''Saya bisa lolos dari terjangan bangunan yang terdorong timbunan lumpur karena sempat pegangan pilar teras rumah tetangga yang kebetulan belum ambruk,'' tutur Nasuri, Evakuasi untuk mencari dua wanita itu sampai kemarin petang juga belum membuahkan hasil. Timbunan tanah longsor telah menutup penuh bangunan masjid itu. Saat dilakukan pengerukan dengan tenaga seadanya oleh petugas keamanan dari TNI, Polri, dan tim SAR, hanya sempat menemukan kubah masjid bertuliskan kalimat Allah. Salah satu saksi lain, Sajuri (40), menuturkan, di antara puluhan korban yang masih tertimbun, ada ibu hamil delapan bulan, Ny Warti (18) juga tak terselamatkan. Warga ini saat bencana datang, ucap Sajuri, sedang sendirian di rumah. Suaminya, Bawon (28) kebetulan sedang keluar kota, ke Jakarta mengirim beras. Dia berangkat sepekan lalu. ''Katanya besok (Kamis 5/1) baru pulang. Mungkin dia belum tahu kalau ada bencana di sini dan istrinya ikut meninggal,'' papar Sajuri Proses evakuasi lainnya terhadap seorang warga yang tergencet dinding rumah juga memakan waktu yang cukup lama. Hampir dua jam tim evakuasi menghabiskan waktu untuk mengangkat jenazah seorang lelaki yang belum diketahui identitasnya. Tim kebingungan dan harus mengambil keputusan penting untuk bisa mengangkat jenazah tersebut sebab ususnya terburai dan tergencet juga. Akhirnya, diputuskan untuk memotong usus tersebut setelah sebelumnya kedua ujungnya diikat dengan tali. Tangis Pilu Jeritan tangis dan air mata pecah seketika saat tim evakuasi bencana mengeluarkan dua jenazah dari dalam mobil ambulans dan membawanya masuk ke salah satu ruangan di SDN Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara. Kerumunan warga desa setempat yang sejak pagi menunggu kabar sanak suadaranya seketika berhamburan menuju ambulans. Tak ayal petugas pun kesulitan membawa jenazah itu keluar dari mobil sebab pintu mobil penuh sesak oleh warga yang merangsek mendekati jenazah. Mereka berharap-harap cemas salah satu dari jenazah itu adalah anggota keluarganya. Melihat keadaan ini, sejumlah petugas TNI dan Posko Kesehatan dengan sigap menyibak kerumunan warga untuk memberi jalan petugas evakuasi membawa masuk jenazah ke ruang SDN Sijeruk. Meski berhasil disibak, sembari menangis dan menjerit warga tetap memaksa turut masuk ke ruangan untuk memastikan identitas jenazah itu. Barikade yang dibuat petugas posko pun tak mampu membendung desakan warga untuk masuk. ''Sapa maning kuwe, sapa maning,'' teriak Turinah yang masih menunggu kabar ibunya, Ny Maryo dan kedua adiknya Solihin serta Umu. Begitu kain penutup jenazah dibuka, kembali pecah tangis sejumlah warga yang langsung bisa mengenali jenazah itu sebagai anggota keluarganya. Ternyata dua jenazah yang datang kala itu adalah jenazah Nipan dan Marwi. Keduanya warga RT 4/RW III Dusun Gunungraja yang sebagian warganya masih belum diketahui nasibnya. Sebagian jenazah yang sudah bisa dikenali oleh sanak saudaranya, langsung dibawa pulang dan segera dimakamkan. Sementara itu, jenazah lain yang belum dikenali, dibawa ke rumah sakit untuk divisum.(Agus Wahyudi,M Syarif SW-14v) | ||||