logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 NASIONAL
Line

Cuaca Buruk, Evakuasi Dihentikan

BANJARNEGARA-Ribuan warga yang memadati lokasi bencana mengakibatkan proses evakuasi tidak bisa lancar. Petugas yang mengoperasikan alat berat tidak leluasa untuk mengeruk atau menyingkirkan timbunan lumpur yang diperkirakan setinggi hampir lima meter.

Petugas keamanan dan tim penolong dari berbagai kesatuan dan partisipasi warga yang melakukan pencarian korban dengan peralatan seadanya juga tidak bisa bergerak bebas, karena warga terus merangsek mendekati lokasi.

Sekitar pukul 16.00 pencarian korban akhirnya dihentikan, karena hujan lebat. Selain hujan, lokasi juga mulai gelap, karena jaringan listrik juga mati serta kabut tebal mulai turun dari atas bukit. Sementara itu, sejumlah warga dan petugas serta tim SAR masih tetap di sekitar lokasi. Di sekitar makam dusun, di atas permukiman yang tertimbun didirikan posko penanggulangan bencana.

Evakuasi menggunakan dua alat berat (beghu) dimulai sekitar pukul 11.30 setelah evakuasi dengan peralatan seadanya tak banyak membuahkan hasil. Kehadiran alat ini sedikit memudahkan pencarian korban. Proses evakuasi dilakukan dengan menyingkirkan timbunan tanah dari sebelah utara terlebih dulu, searah datangnya longsoran. Kemudian terus ke arah selatan. Namun hingga pukul 16.00, saat proses evakuasi dihentikan karena cuaca hujan lebat, baru bisa menyelesaikan separo lokasi. Sisanya akan dilanjutkan hari ini (5/1).

Hujan Lagi

Hujan lebat yang kembali turun juga dikhawatirkan akan menimbulkan longsor susulan. Semua warga yang selamat sudah diungsikan dan rumah-rumah yang masih utuh juga dikosongkan. Namun, kalau bukit tersebut longsor kembali bisa saja menimbun lokasi yang sudah dikeruk dengan alat berat.

Warga merangsek ke lokasi bencana, terutama saat ditemukan korban. Mereka ingin melihat dari dekat, apakah korban tersebut masih termasuk sanak-saudara atau anggota keluarganya. Bahkan, warga yang tidak ada hubungan keluarga pun juga berbondong-bondong ke lokasi. Mereka penasaran ingin mengatahui lokasi bencana yang menelan puluhan jiwa itu.

Warga yang datang itu tidak hanya dari desa setempat, yang dusunnya selamat. Namun juga dari sejumlah desa di sekitarnya. Mereka ingin mengetahui apakah sanak-saudaranya masih ada yang selamat atau tidak.

Seperti yang dilakukan oleh Ny Rukiyah (45), warga Desa Purwasana, Kecamatan Banjarmangu, yang datang untuk mencari kabar anggota keluarganya. Dia datang sejak pukul 07.00, namun sampai pukul 15.30 dia juga belum bisa melihat hasil evakuasi anaknya, Hisam (30), bersama istri, Umi Fajriah (23), dan cucunya, Enzel (4), yang ikut terimbun.

''Anakku endi, anakku endi (Anakku mana, anakku mana),'' teriaknya sambil menangis tak henti-hentinya.

Saat alat berat bisa mengeluarkan barang yang tertimbun seperti kasur atau barang lain, warga yang melihat proses evakuasi langsung berteriak-teriak, ''Awas-awas ada korbannya.'' Operator alat berat kemudian menghentikan sejenak. Evakuasi lalu dilanjutkan dengan alat manual seperti cangkul atau tangan. Itu dilakukan agar korban yang sudah meninggal tetap bisa ditemukan dalam keadaan utuh.

Saat mayat diangkut menuju jalan dusun, tempat mobil ambulans menunggu, warga juga terus memaksa untuk melihat. Padahal tim juga harus berjuang dengan kubangan lumpur. Sebab, banyak warga dan tim yang kejebak dalam lumpur yang dalam.

Sementara itu, pengiriman bantuan juga sempat tersendat, karena arus lalu lintas menuju Kecamatan Banjarmangu, jalur Banjarnegara-Karangkobar-Dieng macet total. Kemacetan arus juga menghalangi pengiriman dua alat berat lagi.

Truk pengangkutnya tertahan di jalan raya, karena kendaraan yang terjebak tidak bisa keluar. Kesemrawutan sepeda motor juga menghambat pengaturan lalu lintas oleh polisi dan petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Banjarnegara.

Kemacetan diakibatkan oleh arus menuju Desa Sijeruk, ramai oleh sepeda motor dan mobil warga desa sekitar yang ingin melihat lokasi bencana. Kabar adanya bencana membuat mereka datang dengan berbondong-bondong menuju Desa Sijeruk. Polisi dan petugas DLLAJ dibuat kewalahan mengaturnya.

Kemacetan tak hanya terjadi di jalur utama menuju Desa Sijeruk yang merupakan jalur provinsi. Jalan desa yang menuju lokasi bencana juga macet oleh masyarakat yang berbondong-bondong menuju Dusun Gunungraja. Mobil ambulans pengangkut jenazah korban meninggal tersendat arus warga yang terus merangsek memadati jalan desa tersebut.

Puncak kemacetan terjadi lima puluh meter menjelang lokasi. Di jalan ini warga ruas jalan penuh sesak dan harus berdesak-desakan untuk bisa mencapai lokasi longsor yang berdampingan dengan kuburan desa.

Para pengungsi mengaku, baru mendapatkan jatah makanan pagi dan siang. Mereka juga masih membutuhkan bantuan pakaian, tikar, dan obat-obatan. Pakaian terutama selimut dan pakaian pantas pakai. Sebab, barang-barangnya sebagian besar tertinggal di rumah. Mereka ditampung di balai desa setempat.

''Selain makanan, kami membutuhkan pakaian untuk penghangat,'' ujar Ny Niah (40), warga RT 5/3, di lokasi pengungsian. Menurut petugas posko logistik, setelah pangan dan pakaian terpenuhi korban membutuhkan material bangunan untuk mendirikan kembali rumahnya. (G22,mos,G23,P16-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA