logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 05 Januari 2006 NASIONAL
Line

16 Tewas, 96 Belum Diketahui Nasibnya

  • Banjarnegara Dilanda Longsor

MENCARI KORBAN: Warga dibantu aparat TNI, Polri, dan tim SAR berupaya mencari korban yang masih tertimbun tanah longsor di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Rabu (4/1). Puluhan warga diperkirakan masih tertimbun tanah longsor yang juga menimbun 102 rumah penduduk.(30v)

BANJARNEGARA - Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan ini, mengakibatkan bencana tanah longsor yang merenggut nyawa 16 warga di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Rabu (4/1) pukul 05.00 WIB. Para korban yang tewas diperkirakan sedang tertidur lelap dan terjebak di dalam rumah sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. Sementara itu, sedikitnya 96 warga yang lain belum diketahui nasibnya. Ke-96 orang ini diperkirakan tertimbun tanah dan rumah mereka yang roboh.

Korban luka-luka berjumlah 14 orang, kini dirawat di RSUD Banjarnegara. Mereka menderita luka memar, lecet, dan patah tulang. Dua korban luka-luka yang masih belum sadarkan diri, Widi (8) dan Tohari (70) dirawat secara intensif di Ruang Kenanga RSUD Banjarnegara.

Jenazah korban yang meninggal untuk sementara waktu ditampung di SD Negeri 1 Sijeruk sambil menunggu kepastian identitasnya diketahui.

Berdasarkan data dari Posko Penanggulangan Bencana di Balai Desa Sijeruk, diketahui sebanyak 102 buah rumah penduduk di dusun itu tertimbun longsoran tanah setebal 5 - 6 meter. Luas longsoran bukit yang menimbun dusun itu diperkirakan empat hektare.

Dusun yang tertimbun itu berada di lereng Bukit Pawinihan yang ditumbuhi hutan damar dan pinus. Di lereng itu juga terdapat sawah yang lokasinya di atas pemukiman warga. Longsoran bukit dan sawah inilah yang menimbun pemukiman warga.

Menurut Kepala Desa Sijeruk, Basirun, Dusun Gunungraja yang terdiri atas lima RT itu berpenduduk 185 KK dengan jumlah warga 655 jiwa. ''Hanya warga yang berada di RT 5 saja yang masih utuh. Adapun yang ada di empat RT lainnya banyak yang rumahnya tertimbun tanah dan belum diketahui nasibnya,'' kata Basirun.

Warga lain yang selamat untuk sementara mengungsi ke rumah saudaranya di desa sekitar. Selebihnya ditampung di Balai Desa Sijeruk dan Balai Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu.

Menurut Sono (20) warga Dusun Gunungraja, bencana itu terjadi secara bertahap. Pada pukul 03.00 sudah terdengar suara gemuruh dari atas hutan RPH Siweru, KPH Banyumas Timur di jajaran bukit Pawinihan. Waktu itu sebagian warga sudah mulai merasakan tanda-tanda longsor.

Namun, tutur dia, sebelum semua warga sadar, selepas subuh sekitar pukul 05.00 suara gemuruh yang disertai angin datang kembali bersamaan dengan longsoran tanah yang menimbun rumah-rumah penduduk. Kabut tebal yang menyelimuti dusun itu membuat tak semua warga bisa langsung mengetahuinya. Mereka pun banyak terjebak di rumahnya dan turut tertimbun tanah.

Kades Basirun menambahkan, dia telah mendapat laporan tanda-tanda akan terjadi longsoran dari warga sejak pukul 01.00 dan pukul 02.00. Sebagian warga sudah bersiap-siap dan waspada, sementara yang lain diimbau untuk siaga. Namun tanda yang berupa getaran itu tidak terasa lagi hingga pukul 02.30. Tak disangka selepas subuh bencana itu datang.

''Sampai dengan pukul 08.00 tadi pagi, getaran susulan masih terasa. Kami sudah meminta warga untuk segera meninggalkan lokasi dan mengungsi ke posko bencana. Sementara itu, sebagian lainnya dengan dibantu warga dari desa sekitar membantu mencari anggota keluarganya yang kemungkinan masih selamat,'' paparnya.

Anggota TNI dan polisi yang mendapat laporan dari warga, langsung menuju lokasi dan membantu proses evakuasi warga dan korban bencana. Namun, karena parahnya longsoran, akhirnya mereka mendatangkan lagi sejumlah personel untuk membantu warga dan tim lainnya.

Kesulitan Mendata

Meski demikian, pihaknya kesulitan mendata warga yang menjadi korban. Baik luka-luka, rumah hancur maupun yang meninggal. Sebab, sebagian warganya berinisiatif mengungsi ke rumah sanak familinya yang barada di lain desa sehingga menyulitkan dalam mendatanya. Dia dan sejumlah perangkat desa mendata melalui kartu keluarga dan mencocokkannya dengan sejumlah warga yang berada di posko bencana.

''Kami belum bisa mendata secara keseluruhan, terutama yang berada di lain desa. Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah mengingat masih banyak rumah yang tertimbun belum bisa diangkat,'' tandasnya.

Bupati Banjarnegara Drs Djasri MM, MT dan Wakil Bupati Hadi Supeno langsung meninjau lokasi bencana. Pemkab telah menyalurkan sejumlah bantuan sembako dan mendirikan posko bencana di Balai Desa Sijeruk serta dapur umum di rumah Kadus Yanto, tak jauh dari posko bencana.

Pemkab, jelas dia, mendatangkan dua buah loader dan satu traktor untuk mengeruk lumpur yang menimbun rumah-rumah warga. Sebab, evakuasi korban tidak bisa dilakukan dengan cara manual mengingat besarnya skala bencana. Laju dua kendaraan berat sempat tersendat karena sempitnya jalan desa menuju lokasi bencana.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Masrifan Djamil mengemukakan, posko kesehatan didirikan selama satu minggu dengan sejumlah dokter dan tenaga medis. Selain itu, ucap dia, sejumlah ambulans yang berada di kecamatan terdekat seperti Madukara, Sigaluh, dan Karangkobar juga diperbantukan untuk mengevakuasi korban meninggal.

Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Pemprov Jawa Tengah Drs Saman Kadarisman seusai mendampingi Gubernur H Mardiyanto meninjau lokasi bencana mengatakan, Gubernur memberikan bantuan Rp 260 juta. Di samping itu, ia telah mengirim sejumlah peralatan berat seperti lima ekskavator dan dua buldoser.

Gubernur menyatakan prihatin dan turut berduka cita atas musibah ini. Pemprov dan Pemkab Banjarnegara segera mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan para warga yang selamat.

Ia juga meminta seluruh warga Jateng yang tinggal di daerah rawan bencana longsor untuk waspada dan mengambil langkah-langkah penyelamatan dini.

Dinas Kesejahteraan Sosial, Badan Kesbang Linmas, dan Biro Kesejahteraan Rakyat juga telah mengirimkan bantuan ke lokasi bencana. Bantuan yang disalurkan berupa selimut, mi instan, dan beras serta kebutuhan bagi pengungsi.

Bantuan terhadap korban bencana langsung mengalir. PMI Jateng menyalurkan bantuan Rp 1,5 juta untuk membantu mendirikan dapur umum. Kepala Bagian Citra dan Kesiapsiagaan Bencana Sulistyo Nugroho mengatakan, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan bantuan lain.

Sulistyo mengungkapkan, semalam PMI daerah juga mengirimkan tim ke lokasi musibah, untuk mengkaji kebutuhan para korban. Selain itu tim juga membawa kantung-kantung mayat, untuk mengevakuasi para korban meninggal.

DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah langsung menerjunkan tim kepanduan yang sudah terlatih dalam kegiatan SAR. Tim pertama berkekuatan 15 anggota.

''Mereka langsung melakukan kegiatan evakuasi korban, pendataan, dan penyiapan posko bagi para pengungsi,'' kata Ketua PLH DPW PKS Amin Wahyudi.

Tim kedua yang berkekuatan 50 personel dari kepanduan PKS Jateng menyusul diberangkatkan pada Rabu siangnya. Mereka dipimpin langsung oleh Ketua Kepanduan DPW Madi Mulyana.

Pemkab Banjarnegara telah menyediakan dua posko di lokasi kejadian. Sejumlah bantuan yang diberikan meliputi makanan siap saji seperti nasi dan mi instan, obat-obatan, dan tenaga medis. Selain RSUD Banjarnegara, tiga rumah sakit umum dan puskesmas terdekat telah menurunkan bantuan kepada para korban.

Untuk evakuasi korban, pemkab telah menyiapkan dua helikopter, dua begu, dan dua truk pengangkut. Tim evakuasi melibatkan SAR, TNI, Brimob, PMI, dan Satpol PP.

Dapur Umum

Kepala Kesbanglinmas Jateng H Ristanto S Sos mengatakan, dalam waktu dekat ini Pemprov akan segera membangun dapur umum.

''Selain dapur umum, tentu saja bantuan untuk para korban sedang kami perhitungkan.''

Dia menambahkan, pihaknya juga telah mengirimkan peralatan berat untuk membantu evakuasi para korban tanah longsor. Hanya, karena kondisi lokasi yang belum memungkinkan, peralatan berat itu belum secara maksimal digunakan. ''Lokasinya sangat berat, karena itu saya minta tim evakuasi berhati-hati. Jangan sampai peralatan berat itu justru terperosok di lokasi,'' ujarnya.

Kepala Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi (BPPE) Wilayah Serayu Ir Sudjarwanto MSi mengingatkan agar warga tetap waspada, karena bencana susulan kemungkinan bisa terjadi.

Dia mengemukakan, segera setelah menerima informasi musibah, BPPE Wilayah Serayu langsung mengirimkan staf ke lokasi untuk memperhitungkan seberapa besar kemungkinan terjadinya longsoran.

''Namun secara umum kemungkinan seperti itu tetap ada,'' ungkap dia.

Dia mengatakan, secara umum wilayah tersebut memang memiliki kerentanan tanah yang tinggi. Dalam peta gerakan tanah pun, wilayah itu sudah ditandai dengan warna merah.

''Sebelumnya, kami sudah memperingatkan warga di sekitar lokasi agar waspada,'' ujar dia.

Dengan adanya musibah longsor di Banjarnegara, dia juga memperingatkan warga di daerah-daerah rawan longsor lain agar waspada. Dia menunjuk contoh, daerah rawan tersebut antara lain di lereng pegunungan Serayu bagian utara. Selain itu juga bagian selatan dari kota-kota Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, dan Banjarnegara. Selain itu juga Purwokerto bagian barat dan utara, Purbalingga bagian utara, serta Banjarnegara bagian utara.

''Warga yang tinggal di lereng atau di bawah lereng harus meningkatkan kewaspadaan,'' tandas dia.

Dia menyarankan, pada saat terjadi hujan deras warga yang tinggal di daerah-daerah semacam itu perlu mengamati aliran air di bawah lereng. Aliran air semacam itu dapat menggerus tanah, sehingga lereng di atasnya turun. Penurunan tersebut juga dapat dilihat dengan adanya retakan di atas atau di punggung lereng.(mos,D14,G17,G6, H12-14v)

Rawan Longsor di Jawa Tengah

1. Banyumas : Cilongok, Gumelar, Kedung Banteng, Lumbir, Purwojati, Pakuncen, Wangon

2. Sragen : Tanon

3. Kendal : Plantungan, Petebon

4. Purwodadi : Panawangan

5. Boyolali : Selo

6. Karanganyar : Jatipuro, Tawangmangu

7. Magelang : Salam, Margayasa, Bandongan, Borobudur

8. Pati : Telogo Wungu

9. Pekalongan : Kaliwiro, Kandangserang, Lebak Barang, Slagi, Talun, Watumalang

10. Kota Semarang : Bukit Manyaran, Jambu, Patikraja, Semarang Selatan, Semarang, Semarang Barat

11. Banjarnegara : Banjarmangu, Banjarnegara, Bawang, Kalibening, Karangkobar, Madukoro, Mandiraja, Pagentan, Pejawaran, Punggelan, Purwanegara, Purworejo Klampok, Sigaluh, Susukan, Wanadadi, Wanayasa

12. Batang : Belik, Blado, Bodeh, Grinsing, Karangasem, Moga, Pulosari, Randudongkal, Rebah, Tersono, Watukumpul

13. Purworejo : Bruno, Bagelen, Kaligesing, Purworejo

14. Kebumen : Karanggayam, Pejagoan, Sruweng

15. Cilacap : Cimanggu, Dayeuhluhur, Majenang

16. Pemalang : Bantarbolang, Belik, Bodeh, Moga, Pulosari, Randudongkal, Watukumpul

17. Brebes : Salem

18. Purbalingga : Bobotsari, Purbalingga, Kaligondang, Karanganyar, Karangmoncol, Karangrejo, Kemangkon, Kutasari, Mrebet

19. Temanggung : Candiroto, Juno, Kaloran, Kandangan, Pringsurat, Tretep

20. Wonosobo : Kaliwiro, Wonosobo, Kepil, Mojotengah, Pejajar, Sapuran, Wadaslintang, Watumalang

(Pusdok SM-14)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA