| Kamis, 05 Januari 2006 | MURIA |
Harga Beras NaikREMBANG - Dalam beberapa hari ini, harga beras di Kabupaten Rembang mulai mengalami kenaikan bervariasi, sekitar 15 - 25 persen. Beras IR 64 yang sebelumnya dijual dengan harga konsumen Rp 3.100-3.300 per kilogram, pada perdagangan kemarin sudah mencapai harga Rp 3.800 hingga Rp 3.850 per kilogram. Sementara itu beras kualitas A seperti Mentik Wangi dan Bramo yang biasanya dijual dengan harga Rp 3.700, kemarin sudah mencapai kisaran harga Rp 4.100 per kilogram. Menurut Gampang Haryono, pedagang beras dan pemilik UD Amanah Abadi di Pasar Rembang, kemarin, untuk beras seperti Mentik Wangi dan Bramo sudah tidak ada lagi di pasar beras Rembang. "Selama beberapa waktu ini, persediaan beras kualitas A tersebut sudah tidak ada lagi. Yang ada beras kelas medium," katanya. Dia menambahkan, selain langka, mutu beras yang ada di pasaran Rembang akhir akhir ini juga sangat merosot tajam. "Beras yang ada di pasaran berwarna kehitaman, kurang kering, dan mudah pecah. Mau bagaimana lagi, beras yang ada hanya itu. Jadi terpaksa dijual dengan kondisi seperti itu," terangnya. Secara terpisah Sekretaris Asosiasi Kontraktor Gabah Dolog se-Eks Karesidenan Pati, M Suyudi, memprediksikan harga beras di pasaran Rembang dalam beberapa minggu mendatang masih bisa terus naik. Prediksi itu, menurut Suyudi, didasarkan kepada langkanya persediaan gabah yang dimiliki petani. "Saat ini saya hanya bisa mendapatkan dan menggiling gabah sebanyak satu ton per hari. Itu pun mendapatkannya sangat susah. Padahal sebelumnya, saya bisa menggiling sebanyak lima ton per hari," kata Suyudi. Dia mengatakan, Pemkab harus segera mengatasi permasalahan itu dengan cara melakukan operasi pasar (OP). "Masyarakat sekarang sangat kesulitan untuk mendapatkan beras. Andai bisa membeli beras, harus dengan harga yang sangat tinggi. Satu-satunya jalan, Pemkab bersama Dolog harus segera melakukan OP untuk menstabilkan harga," tegasnya. OP Sulit Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang, Drs FX Tridjoko Margono, melalui Kabid Pedagangan dan Investasi, Drs Yustami, menyatakan, pihaknya akan terus mengamati perkembangan harga beras di pasaran selama seminggu ini. Dia mengatakan, seharusnya jika harga beras naik sebesar 25 persen dari harga sebelumnya, harus dilakukan operasi pasar (OP) oleh Pemkab dan Bulog. "Dengan asumsi harga saat ini, seharusnya memang sudah ada OP. Tapi kami harus menunggu perkembangan harga beras selama seminggu mendatang," terangnya. Yustami menambahkan, saat ini yang menjadi faktor sulit adalah panjangnya rantai pengusulan OP. Sesuai dengan Keputusan Bersama antara Menteri Ekonomi dan Menko Kesra Nomor Kep 46/M.EKON/08/2005 dan No 34/KEP/MENKO/KESRA/VIII/2005 tentang Pedoman Umum Koordinasi Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah, Pemkab harus terlebih dahulu mengusulkan untuk diadakan OP kepada Menteri Ekonomi. Selanjutnya, kata Yustami, Menteri Ekonomi akan mengadakan kerja sama dengan Bulog pusat. Baru kemudian Bulog pusat memerintahkan Bulog yang ada di daerah untuk mengadakan OP. "Kami pernah mengusulkan agar rantai OP itu dipangkas, karena tidak efektif. Paling cepat butuh waktu tiga minggu untuk mendapatkan keputusan OP dari menteri hingga ke Bulog. Di saat perintah OP sudah turun, kemungkinan besar harga beras sudah menjadi stabil kembali," terang Yustami. Yang tidak kalah memberatkan, katanya, Pemkab harus menalangi dana pembelian beras untuk OP. "Kalau di pasaran harga beras masih cukup tinggi seperti sekarang, tentu saja Pemkab bisa melepaskan beras dengan harga standar ke pasaran. Namun yang memberatkan adalah jika Pemkab sudah telanjur menalangi beras OP, tetapi harga beras di pasar sudah turun lagi. Itu yang menjadi kendala. Beras OP yang sudah telanjur dibeli Pemkab itu, kemudian akan dilepaskan ke mana?" tandasnya. (moe-15a) |