| Kamis, 05 Januari 2006 | EKONOMI |
Kesulitan Serap Beras Dalam NegeriJAKARTA- Direktur Utama Perum Bulog Widjanarko Puspoyo mengatakan, meskipun sulit melakukan pengadaan dalam bulan Januari, tapi karena merupakan program khusus, lembaga tersebut akan berusaha maksimal memperoleh beras dari dalam negeri. ''Mudah-mudahan saja berhasil,'' kata dia usai melantik pejabat Perum Bulog di Jakarta, Rabu (4/1). Menurut Widjan (panggilan Widjanarko-Red), Bulog mengalami kesulitan menyerap beras dari dalam negeri. Sebab harga beras di pasar sudah mencapai Rp 4.000 per kilogram, atau sudah di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.550 per kilogram. ''Sekarang ini sulit memperoleh gabah di daerah Jawa Barat karena sebagian beras areal sawah baru panen pada akhir Februari atau awal Maret,'' ujarnya. Sesuai laporan yang dia terima dari daerah-daerah sentra produksi sampai Rabu (04/1), daerah-daerah juga sulit melakukan pengadaan. Daerah Jawa Barat misalnya, sampai Rabu kemarin masih belum ada. Sementara daerah Jateng, Jatim dan Sulsel baru menjanjikan saja. Jateng baru menjanjikan 2.000 ton. Menyinggung soal impor, Widjan mengatakan, jika Bulog melakukan impor beras lanjutan dari Vietnam maka beras itu tidak akan melalui pelabuhan di Jawa. Pelabuhan yang mungkin akan digunakan adalah Belawan, Dumai, Bitung, Kupang, Sorong, dan pelabuhan di Kalimantan Timur. Dia mengaku, sulit bagi Bulog untuk melakukan pemindahan beras impor dari Jawa ke luar Jawa. Jika itu dilakukan, harga beras di Jawa akan melonjak. ''Jadi kalau dilakukan impor tidak mungkin lewat pelabuhan Ciwandan, Banten,'' katanya. Dia menjelaskan, beras impor akan digunakan untuk mengisi stok Bulog di daerah yang kekurangan. Sementara stok Bulog yang berada di Jawa hanya akan digunakan untuk keperluan konsumsi di Jawa saja. Meski demikian, dia mengaku belum bisa memprediksi jumlah beras yang kemungkinan akan diimpor. Tenggat waktu pembelian beras dalam negeri untuk memenuhi kekurangan stok masih belum usai. Seperti diketahui, Bulog diperintahkan untuk memenuhi kekurangan stok sebesar 132 ribu ton beras hingga 5 Januari dari stok dalam negeri. Jika tidak bisa memenuhi kekurangan itu, Bulog akan melakukan impor. Menurutnya, jika impor harus dilakukan, Bulog tetap akan mengambil beras dari Vietnam. Sementara Kadivre Bulog Jateng, Sutono dan Kadivre Bulog Jabar, Taharjono mengatakan, karena harga beras sudah di atas HPP yang ditetapkan dalam Inpres 13/2005, pihaknya akan sulit melakukan pengadaan. ''Sampai hari ini (Rabu 4/1) belum ada yang menandatangani kontrak. Kita lihat saja apakah masih ada pemilik beras yang mau menjual ke Bulog dengan harga Rp 3.550,'' kata Sutono.(tri-59) |