logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Januari 2006 NASIONAL
Line

Pagar Gedung DPR Terlalu Tinggi

JAKARTA - Pagar gedung MPR/DPR/DPD RI yang sangat tinggi, rupanya membuat gerah para penghuninya. Pagar itu juga dinilai masyarakat sebagai sebuah bangunan yang membentengi wakil rakyat dari rakyat.

Hal ini terungkap ketika Ketua MPR Hidayat Nurwahid menggelar konferensi pers awal tahun di gedung MPR Senayan Jakarta, Selasa (3/1).

Menurut dia, sebelum pagar tinggi itu dibangun, dia sering melihat masyarakat umum datang ke gedung wakil rakyat dengan nyaman. Bahkan, banyak yang sengaja berfoto dengan latar belakang gedung itu. Sebaliknya, dia pun merasa welcome dengan kehadiran masyarakat.

Hidayat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu berpendapat, semestinya pembangunan pagar harus menghadirkan suasana yang akrab antara lembaga legislatif dan rakyat yang memilihnya. "Bukan sebaliknya, pembangunan pagar justru membuat kesan angker," tandasnya.

Pagar setinggi empat meter dengan pintu gerbang tujuh meter itu memang berkesan angker. Apalagi, bentuk pagar seperti jeruji penjara dengan ujung meruncing seperti tombak. Jeruji yang kokoh itu memiliki kerapatan sekitar lima belas senti.

"Salah satu cara untuk menghadirkan suasana keakraban adalah dengan mengurangi ketinggian pagar. Kita juga meminta agar ujungnya tidak seperti tombak. Seharusnya bentuk pagar lebih artistik dan manis. Namun karena gedung DPR sering dipakai sebagai ajang kekuatan fisik demonstran, pembangunan tetap memperhatikan kekuatan konstruksinya," kata wakil rakyat asal Jawa Tengah itu.

Dia mengkhawatirkan akan terjadi pemborosan anggaran jika harus berkali-kali mengganti pagar yang rusak atau roboh. Meski demikian, dia tetap tidak setuju dengan pagar DPR yang tinggi.

Pagar yang diminta lebih rendah itu berada di belakang. Saat ini pembuatan pagar depan sudah hampir selesai, tinggal proses akhir seperti pengecatan dan pemasangan marmer penunjuk nama.

Sekretaris Jenderal DPR Faisal Djamal menyebutkan, proyek pagar depan menghabiskan dana Rp 2,1 miliar.

Pemagaran itu juga dilakukan hingga bagian belakang yang selama ini jarang dipakai menggelar aksi demonstrasi. Berdasar informasi, pembangunan pagar belakang itu menelan biaya Rp 3,6 miliar.

Ketika ditanyakan kepada Hidayat, dia langsung menolak jika anggaran sebesar itu hanya untuk membangun pagar.

"Yang mengerjakan proyek pemagaran adalah Sekjen DPR. Namun saya minta untuk tidak lagi memakai cara berpikir seperti pada saat membangun pagar depan yang tinggi, mahal, dan angker. Kami tetap terbuka pada masyarakat, baik yang ingin berdemo ataupun sekadar berfoto," ujarnya.

Dia tidak ingin muncul kontroversi atas pembangunan pagar belakang. "Pembangunan pagar yang tinggi itu bisa merusak citra wakil rakyat. Selain itu, pada prinsipnya kami ingin ada pemangkasan anggaran. Jika ada penghematan, dana bisa dipakai untuk keperluan lain yang lebih penting." (sas-48m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA