logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Januari 2006 SEMARANG
Line

Satroni Pesantren Preman, Ditangkap

SEMARANG UTARA - Jeruk makan jeruk. Itulah yang terjadi di pesantren, yang memiliki santri para mantan preman, "Istighfar" , asuhan Gus Tanto, warga Jl Purwosari Perbalan, Purwosari.

Seorang preman kelas teri, Novi Ziardi (25) alias Dewa, warga Perbalan Purwosari I, nekat mencuri teve di pesantren itu, Senin (2/1) dini hari. Walhasil, Dewa pun ditangkap dengan mudah.

Dewa memasuki pesantren, yang membina lebih dari 100 preman itu, dalam keadaan mabuk, sekitar pukul 01.00. Dia memasuki pondok tersebut melalui pintu belakang. Barang elektronik milik pesantren yang dicurinya itu, menurut rencana akan dijual. Hasilnya akan digunakan pergi merantau ke Kalimantan.

Aksi pencurian itu dilakukan pelaku saat beberapa santri sedang duduk-duduk di ruang tengah, sedangkan Gus Tanto sedang shalat sunah di salah satu sudut masjid di dalam pesantren. Beberapa menit kemudian, datanglah Didik (30), seorang santri yang hendak shalat tobat.

Ketika Didik akan mengambil air wudu, dia melihat sebuah pesawat teve 21 inci sudah berada di dekat jendela kamar kiainya, Gus Tanto. Didik pun curiga, karena teve tersebut sudah berpindah posisi.

Memergoki

Oleh Didik, teve itu dikembalikan ke tempatnya semula, yakni di atas meja milik kiai berjuluk Kiai Tombo Ati itu. Kemudian Didik melanjutkan wudlunya. Ketika hendak menuju ke masjid, dia memergoki pelaku sedang mengangkut teve tersebut. Rupanya teve itu akan diangkut keluar pesantren melalui pintu belakang.

Didik pun menghampiri tersangka dan menyapa lirih, ''Hei mas, jenengan badhe menapa?'' tanya santri itu. Sontak, tersangka kaget dan sangat ketakutan, sehingga meminta maaf agar tidak dipukuli. Ketakutannya pun makin menjadi ketika Gus Tanto datang menghampirinya.

''Lo, kok Guse (Gus Tanto) yang punya rumah ini (pesantren-Red). Maaf Gus, saya minta maaf Guse,'' kata Dewa, sembari merapatkan dua telapak tangannya meminta ampun. Dewa mengaku, ketika melakukan aksinya, dia merasa tidak dilihat seorang pun di dalam pesantren itu.

Tersangka lalu diserahkan ke aparat Polsek Semarang Utara. Gus Tanto menduga ada orang-orang tertentu yang sengaja membuat kacau atau mencoba memfitnah pesantrennya. Dia mengaku mengetahui siapa pelakunya. ''Saya tahu orangnya, tetapi saya tidak akan menyebutkan namanya,'' ungkapnya.

Ketika Gus Tanto dimintai keterangan aparat Polsek Semarang Utara di Mapolsek itu, Dewa masih terlihat merengek-rengek meminta ampun kepada Gus Tanto. Mengenakan pakaian bernuansa hitam dan berambut gondrong, Gus Tanto mengaku, tak bisa berbuat banyak karena kasus itu bukan delik aduan. ''Kasus itu kami serahkan ke aparat berwenang,'' ujarnya. (G5-56h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA