logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Januari 2006 SEMARANG
Line

Pendapatan Pengusaha Tahu Turun 30%

SEMARANG - Pemberitaan pemakaian formalin pada produk makanan, berdampak pada pendapatan pengusaha kecil. Sundjoyo (39), penanggung jawab pabrik tahu merek Surabaya (SBY) mengaku pendapatannya turun hingga 30%.

Pabrik tahu yang beralamat di Jalan Madukoro I/65 itu setiap hari memproduksi 150 tong. Namun sejak isu formalin merebak, produksi turun menjadi 100 tong/ hari. Padahal, Sundjoyo mengaku tak pernah memakai formalin untuk mengawetkan tahu. Meski demikian, tahu putih produksinya bisa bertahan dua hari.

''Sejak beroperasi sekitar 1960-an, kami tak pernah memakai formalin. Apalagi produksi perusahaan ini berdasarkan pesanan sehingga tak pernah tersisa atau selalu habis terjual,'' ujarnya, Selasa (3/1).

Penurunan produksi, lanjut dia, berpengaruh pada penurunan pendapatan karyawan. Menurut Sundjoyo, 35 orang pekerja diupah harian, berdasarkan produksi tahu. Dia mengatakan, selama dua pekan terakhir, rata-rata pendapatan buruh berkurang Rp 10 ribu/hari.

Sebagai bagian dari pengusaha kecil, Sundjoyo berharap pemerintah memberi label khusus seperti label halal terhadap tahu yang bebas formalin. Dengan demikian, tahu yang diproduksi tanpa bahan pengawet tak ditakuti konsumen.

Sementara itu, Hadi Susanto (67) pemilik pabrik tahu merek ''HD'' mengaku tidak terpengaruh isu formalin. Omzet perusahaan yang beralamat di Jl Jenderal Sudirman 81 itu tetap, 70 tong-80 tong per hari, tak jauh berbeda dari saat sebelum isu formalin merebak.

''Tahu-tahu itu didistribusikan pada para penjual di sejumlah pasar tradisional Semarang, antara lain Pasar Johar, Pasar Bulu, dan Pasar Karangayu. Kami tidak pernah memakai formalin. Mungkin karena itu, para pelanggan tetap memilih tahu kami,'' tuturnya.

Minat Masyarakat

Meski demikian, dia tetap khawatir jika isu formalin berlarut-larut, sedikit banyak akan memengaruhi minat masyarakat untuk mengonsumsi tahu. Karena itu, dia berharap pemerintah bertindak cepat mengantisipasi isu formalin yang menerpa sejumlah industri kecil tersebut.

Ditemui secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang Prijo Anggoro BR mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan empat tim untuk melakukan pemantauan di 19 titik. Setiap tim terdiri atas 3-4 personel yang bertugas memantau kemungkinan pemakaian formalin, baik pada tahu, ikan, mi basah dan kering, bakso maupun kerupuk.

''Tim perlu turun karena Disperindag tidak ingin industri tahu Kota Semarang mati. Pemberitaan pemakaian formalin pada sejumlah industri, termasuk tahu, membuat omzet para pengusaha berkurang,'' ungkap Prijo di sela-sela sidak di Perusahaan Tahu ''HD'', Jl Jenderal Sudirman, Selasa (3/1).

Menurut dia, pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada industri tahu. Sejumlah industri rumahan lain yang ditengarai memakai formalin pun disidak, misalnya ikan asin dan kerupuk.

Dari hasil pemeriksaan, akan diketahui apakah pengusaha kecil Semarang memakai pengawet mayat itu atau tidak. ''Dari 39 pengusaha tahu yang kita datangi, tak satu pun terbukti memakai formalin,'' tegasnya.

Namun pihaknya tidak bisa memastikan jika pencampuran bahan pengawet dilakukan para pedagang. Karena itu, dia berharap pemerintah mengatur tata niaga formalin dan boraks agar tidak digunakan dalam bahan makanan. (H9,H5,H11,lin-18m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA