logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Januari 2006 KEDU & DIY
Line

Puluhan Rumah Harus Dipindah

  • Tanahnya Retak-retak

PURWOREJO - Hujan lebat pada awal tahun ini, selain menyebabkan terjadinya tanah longsor di wilayah Kecamatan Bener dan berakibat dua orang tewas, ternyata juga mengakibatkan tanah longsor di wilayah Kecamatan Bruno.

Di dua kecamatan tersebut, puluhan rumah cukup bahaya ditempati karena tanahnya retak-retak.

Di Desa Brunosari, Kecamatan Bruno, sebanyak 11 rumah rusak berat akibat tanahnya bergerak, yaitu milik Ismun (selama ini dihuni tujuh jiwa), Susdiyono (empat jiwa), Mundir (empat jiwa), Yadi (sembilan jiwa), H Jamangin (lima jiwa), dan Jumadi (tujuh jiwa).

Kemudian rumah milik Yamah (lima jiwa), Samsudin (sembilan jiwa), Siswanto (sembilan jiwa), Jabar (tiga jiwa), dan milik Yani (tujuh jiwa).

Sementara itu di Dukuh Kepodang RT 2, RW 2, Desa Gunungcondong, Bruno, terjadi tanah retak-retak yang mengakibatkan 27 rumah warga harus dibongkar karena rawan ditempati. Selain itu, 14 rumah warga di desa yang sama terancam longsor.

Menurut Camat Bruno, Drs Wahyu Jaka Setiyanta, 41 rumah warga Desa Gunungcondong itu harus dipindahkan ke tempat yang aman.

Lalu di Dukuh Kajoran, Gowong, Bruno, rumah milik Sukadi (35) yang selama ini dihuni lima orang juga terancam longsor, sehingga perlu segera dipindah. Kendalanya, orang itu tidak memiliki tanah di tempat lain yang aman.

Berkenaan dengan kondisi itu, Camat Bruno mengajukan permohonan bantuan kepada pemkab, baik berupa uang maupun material untuk mendukung pemindahan rumah.

''Yang jadi masalah utama, warga Gunungcondong sebagian besar tidak memiliki lahan untuk pindah. Sehingga, sementara waktu ini ada bangunan rumah yang dipindah, dan ada pula yang terpaksa tetap akan ditempati oleh pemiliknya,'' papar Camat Bruno.

Rusak Total

Sementara itu menurut Camat Bener, Agus Ari Setiyadi SSos, hujan lebat yang terjadi Minggu (1/1) berakibat empat rumah rusak total dengan dua korban jiwa manusia, dan 48 rumah penduduk rusak berat.

Sebuah masjid di Desa Kalijambe juga rusak, serta 20 meter jalan aspal menuju Desa Benowo rusak dan irigasi Desa Sidomukti jebol 25 meter.

Di Desa Mayungsari, aliran sungai tertutup tanah longsor, dan jalan aspal tertutup tanah longsor sepanjang 100 meter. Balai Desa dan senderan di Desa Pekacangan juga rusak berat.

Giran (50), warga Kalijambe, Bener, ketika ditemui kemarin menyatakan, akibat badan jalan raya Purworejo-Magelang ambles, rumah dia kini miring.

Berkenaan dengan itu, dia tidak berani menempati rumahnya, terutama pada malam hari.

Akibatnya, setiap malam dia bersama istri dan tiga anaknya mengungsi di rumah Ny Marilah, tetangganya.

Kepala Kantor Kesbang Linmas, Drs Sunarto, kemarin menyatakan bantuan berupa beras dan mi instan sudah disalurkan ke beberapa lokasi bencana alam.

Kepada korban meninggal, diberi bantuan uang masing-masing Rp 1 juta.

Warga yang rumahnya hancur dibantu Rp 1 juta, yang rumahnya rusak berat Rp 500 ribu, dan yang rusak ringan diberi bantuan Rp 200 ribu.

Ketika ditanya solusi bagi warga yang rumahnya tidak mungkin ditempati lagi, Sunarto mengatakan, kemungkinan akan dipindahkan ke tanah desa yang aman dari bencana.

Untuk keperluan itu, akan dikoordinasikan dengan bupati, Kamis besok.

Berdasarkan pemantauan dia, Selasa kemarin tidak terjadi tanah longsor susulan, hanya ruas jalan raya Kalijambe dan jalan Purworejo-Wonosobo di Desa Redin, Gebang, ambles. (yon-39a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA