| Rabu, 04 Januari 2006 | INTERNASIONAL |
Anak 8 Tahun Taklukkan Puncak Tertinggi DuniaBOTHELL - Di balik kekurangan manusia, pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Itulah yang terjadi pada anak delapan tahun ini. Meski menderita autisme dan baru berusia delapan tahun, Aidan Gold telah menjadi pendaki gunung kawakan yang telah meninggalkan jejaknya di puncak pegunungan Cascade, Alpen, dan Himalaya. ''Gletser di sini lebih tinggi dibandingkan Gunung Rainier, meski terdapat sejumlah tanaman,'' kata Aidan kepada Seattle Post-Intelligencer di rumah keluarga di pinggiran utara Bothell, Washington. Dia menunjuk ke sebuah garis kelap dalam potret Island Peak Himalaya. Aidan mendaki gunung setinggi 20.300 kaki itu bersama ayahnya dan beberapa pemandu pada November lalu. Ayahnya, Warren Gold, menjelaskan anggota Asosiasi Pendaki Gunung Nepal mengatakan kepadanya bahwa Aidan tampaknya menjadi orang termuda yang mencapai puncak itu. Pendakian itu merupakan yang tertinggi bagi empat bulan petualangan mendaki dan hiking keluarga itu, yang membawa mereka dari Swiss ke Kathmandu. Aidan dan sang ayah juga mencapai puncak Gunung Haustock yang tingginya 10.400 kaki dan Monch dengan ketinggian 13.400 kaki di Pegunungan Alpen. Mereka juga berhasil menaklukkan Puncak Awi di ketinggian 17.200 kaki di dekat Everest. Seluruh keluarga itu, termasuk Janick yang baru berusia lima tahun, telah membuat base camp di ketinggian 17.700 kaki di Everest. Tantangan dan Pengetahuan Aidan mengatakan bagian tersulit baginya adalah permukaan batu dan es dengan kemiringan 45 derajat di Haustock. '' ''Itu merupakan petualangan 3.000 kaki terburuk yang pernah saya jalani,'' jelasnya. Gold menjelaskan dia ingin memberi anak-anaknya pengetahuan tentang sebuah dunia yang jarang disentuh manusia. ''Campuran keajaiban dan petualangan, itulah yang Anda dapatkan di gunung-gunung itu,'' kata lektor kepala ekologi dan ilmu lingkungan di kampus Universitas Washington-Bothell itu. Istrinya, Julia, menemani dia dan anak-anak mereka pada perjalanan panjang itu. Dan, Gold mengadakan riset ekologi di tempat yang sangat tinggi. Aidan mengatakan dia senang mendaki karena tantangan dan pengetahuan. ''Saya menderita demam dua kali di Nepal. Namun hal itu tidak terjadi di Swiss,'' jelasnya. Dia menambahkan, ''Wah, satu pagi di ketinggian 17.000 kaki sangat dingin.'' Gunung yang kali pertama didaki Aidan adalah Gunung Si, di dekat North Bend. Kala itu dia baru berusia tiga tahun. Orang tuanya mengatakan Aidan memiliki fokus luar biasa, dan tidak gentar oleh upaya dan kebosanan mendaki selama beberapa jam di satu bentangan. Kondisi itu terjadi mungkin sebagian lantaran Sindrom Asperger, jenis autisme yang didiagnosa ketika Aidan berusia tiga tahun. Orang autistik cenderung memiliki fokus yang hebat, namun kurang bisa beradaptasi dengan keadaan sosial. Meski begitu, Aidan merupakan pendongeng yang piawai. Dia menulis cerita dan membacanya dengan keras. (ap/yahoo-niek-26) |