| Rabu, 04 Januari 2006 | BANYUMAS |
Puluhan Warga Rajawana Terserang DBPURBALINGGA - Puluhan warga Desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol terserang demam berdarah dengue (DBD). Sejak kasus pertama ditemukan pekan terakhir Desember 2005, sudah ada 43 warga yang berobat ke Puskesmas Karangmoncol. Sebagian kini sudah sembuh, sebagian masih dirawat, dan sebagian lagi dirujuk ke RSUD Purbalingga. Hingga Selasa (3/1), masih ada enam orang yang menjalani rawat inap di puskesmas itu, dua di antaranya anak-anak. Seorang warga Rajawana, yaitu Nawang Hidayat (25), datang ke puskesmas untuk memeriksakan diri, Selasa (3/1). Ternyata dia positif sehingga langsung masuk ruang rawat inap. Menurut keterangan Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) dokter Dyah Retnani Basuki, jumlah keseluruhan pasien DBD yang rawat inap di puskesmas 30 orang dan 12 orang lainnya hanya rawat jalan. ''Sebagian besar sudah sembuh, hanya tinggal enam pasien ini,'' ujarnya saat mendampingi Wakil Bupati Heru Sudjatmoko menengok para pasien, Selasa (3/1). Dyah menyebutkan, penyebab DBD di Rajawana bukan karena ada penderita dari luar daerah masuk. Namun, diduga ada nyamuk Aedes aegypti terbawa sampai ke Rajawana. Nyamuk itu lalu menggigit Fatah Sykuri, warga. Dia kemudian berobat ke RSUD Margono di Purwokerto dan dinyatakan positif. Nyamuk lain lalu menggigit Fatah. Nyamuk itu lalu menggigit warga yang sehat sehingga dia juga terkena DBD. ''Kecamatan Karangmoncol memang daerah rawan nyamuk karena di sana banyak terdapat kebun salak. Kebun ini biasanya tempatnya kurang sinar matahari,'' tutur Dyah. Terus Bertambah Dengan adanya faktor alam seperti itu, Dyah memperkirakan, jumlah penderita DBD dari Rajawana akan terus bertambah. Namun, penambahan jumlah penderita itu tidak secepat pada saat kali pertama kali DBD ditemukan. Sebab, sudah banyak nyamuk dewasa yang mati setelah DKKD melakukan pengasapan (fogging) di desa itu (30-31/12). ''Kami akan melakukan pengasapan lagi seminggu lagi. Pengasapan dua kali dengan interval satu minggu itu untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang berubah menjadi dewasa. Interval pengasapan itu terkait dengan siklus hidup nyamuk,'' ungkapnya. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa tapi tidak jentik-jentiknya. Untuk menjadi dewasa, butuh satu minggu. Karena itu, yang baru saja berubah menjadi nyamuk dewasa dibunuh lagi dengan pengasapan kedua. Jika tidak ada pengasapan lagi dalam satu minggu, nyamuk akan kebal atau bertambah banyak. Untuk mencegah dan membatasi penyebaran DBD, lanjut Dyah, setiap keluarga perlu melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) agar setiap rumah bebas dari jentik-jentik nyamuk itu. Caranya dengan mengubur kaleng, ban bekas, dan barang bekas lain yang dapat menampung air hujan di halaman atau kebun. Menguras bak penampung air lima hari sekali. Jika daerah itu sulit air, bisa menggunakan abate yang tersedia gratis di puskesmas-puskesmas. Menutup rapat persediaan air sehingga nyamuk tidak mungkin bertelur di dalamnya dan memantau secara berkala jentik-jentik nyamuk di rumah masing-masing. (F10-16j) |