logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Dinkes Ambil Sampel Tahu dan Mi di Pasar

  • Terkait Isu Produk Berformalin

CILACAP - Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama dinas terkait lain termasuk Humas Pemkab Cilacap, kemarin mengambil sampel tahu dan mi yang diperdagangkan di produsen dan pasar Cilacap.

Langkah itu terkait dengan isu santer tentang produk makanan dengan kandungan formalin yang dijual di Cilacap.

''Sebagai antisipasi beredarnya tahu dan mi berformalin di Cilacap, Dinkes mengambil sampel,'' ujar Kepala Dinkes dokter Sugeng B Susanto kepada Suara Merdeka.

Dia mengemukakan, sedikitnya 18 sampel yang diambil petugas dari tiga pasar di eks Kotip Cilacap dan sejumlah pembuat tahu serta mi.

''Pengambilan sampel kami lakukan secara acak. Sampel yang diambil kemudian akan kami kirim ke BPOM di Semarang untuk diuji,'' katanya.

Hasil pengujian memang tidak bisa diketahui dalam waktu dekat. Setidaknya dibutuhkan sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil tes tersebut.

''Memang agak lama karena saat ini Dinkes Cilacap belum memiliki sarana uji sendiri. Jadi, harus dikirim ke Semarang,'' ucap Sugeng.

Lebih lanjut dia menyebutkan, langkah uji produk saat ini memang mutlak. Dengan langkah tersebut, kepastian ada tidaknya bahan makanan berformalin yang beredar di Cilacap dapat diketahui dengan cepat.

Merugi

Sementara itu, produsen dan pedagang mi serta tahu yang ditemui Suara Merdeka menuturkan, isu formalin membuat mereka merugi. Jumlah penjualan dagangan mereka menurun hingga 25%.

''Mi buatan kami mengalami penurunan penjualan hingga 25%. Kalau ini dibiarkan, kami bisa terus merugi,'' keluh Eman Sulaeman, seorang pembuat mi di Jalan Rinjani.

Menurut pendapatnya, yang menderita adalah mereka yang melakukan usahanya dengan benar. Hanya karena ulah produsen nakal yang mencampur produknya dengan formalin, mi atau tahu buatan dan jualan mereka ikut tidak laku.

Pernyataan serupa disampaikan Ny Siam, penjual tahu di Pasar Tanjungsari. Dia menyebutkan, jumlah tahu yang dia jual sekarang menurun drastis. Kalau sebelumnya bisa 4-5 kilogram/hari, kini untuk menjual satu kilogram saja sudah sangat sulit.

''Mulut saya sampai lelah untuk memastikan pembeli bahwa tahu yang saya jual tidak mengandung formalin,'' ujar dia.

Para penjual dan pembuat tahu dan mi di Cilacap meminta Dinkes mengeluarkan label bebas formalin. Semua produk yang dijual dan dibuat oleh mereka kemudian minta diberi label tersebut.

''Dengan demikian, pembeli tidak ragu lagi karena ada label pernyataan bebas formalin dari Dinkes pada produk yang kami buat/jual,'' kata Ny Emen. (G21-16j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA