logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 PANTURA
Line

Bergelut dengan Korek Gas sejak 1965

TANGAN orang tua itu terlihat sedang mengutak-atik sebuah korek gas di genggamannya. Tak lama kemudian, dia mengambil obeng untuk membuka salah satu sudut korek. Selanjutnya, dia mengocok barang itu. Setelah dirasakan, ternyata gas korek itu habis.

Lalu, dengan cekatan lelaki tua itu mengambil sebuah tabung gas ukuran kecil. Sedikit agak gemetar, dia menekan ujung tabung ke dalam korek tersebut hingga terisi penuh. Selanjutnya, korek gas itu diletakkan di atas etalase berjejer dengan puluhan korek gas lain.

Ya, begitulah rutinitas yang dilakukan Dakimin (70). Jika melihat cara dia membuka korek gas dengan cekatan, hal itu tidak mengherankan. Sebab, sejak 1965 atau selama 41 tahun, dia sudah bergelut dengan dunia gorek gas. Bahkan, tempat dia berjualan korek gas juga tidak berubah, yakni di Pasar Senggol, tepatnya di sebelah utara pasar swalayan Matahari Kota Pekalongan.

"Kalau tidak salah, saya mulai menjadi penjual dan reparasi korek gas di Pasar Senggol sejak 1965. Namun tempatnya bukan di sini, melainkan di depan jalan," kenang warga Kelurahan Kramatsari Kecamatan Pekalongan Barat ini sambil mengisap rokok kretek.

Suami Marliyah (63) ini, tergolong memiliki semangat tinggi dalam menjalani masa tuanya. Betapa tidak, untuk bisa sampai ke kiosnya, dari rumah dia mengendarai sepeda angin. Padahal, jika melihat jarak tempuh dari rumahnya di Kramatsari ke Pasar Senggol, mencapai lima kilometer.

Ayah lima anak dan tujuh cucu ini menuturkan, pada tahun itu, tarif yang ditetapkan berbeda dari sekarang. Namun ketika ditanya mengenai tarif sebuah korek gas pada tahun 65-an, dia lupa. Sekarang, kata dia, satu korek gas yang menggunakan pematik, dijual seharga Rp 1.500, sedangkan mengisi gas dikenai tarif Rp 400.

Tercukupi

Berapa penghasilan setiap hari yang diperoleh dari hasil kerjanya? Laki-laki tua itu mengaku penghasilannya tidak menentu. "Yang penting, setiap hari kebutuhan makan bisa tercukupi," tegas dia sambil mengatakan setiap hari hidup bersama salah satu anak dan istrinya.

Bagaimana jika tabung gas korek tersebut habis, apakah membeli di supermarket? Ternyata tidak. Dia tidak membeli di supermarket, melainkan mengisi ulang kembali tabung tersebut di daerah Wiradesa Kabupaten Pekalongan. Setiap mengisikan tabung gas yang kosong, hanya membayar Rp 500.

"Jika membeli tabung gas di supermarket, terus terang hasilnya tidak sesuai dengan pemasukan. Sebab, harganya berkisar Rp 9.000 - Rp 10.000, sedangkan tiap mengisi korek gas hanya dikenai Rp 400," tutur Dakimin. (Moch Achid Nugroho-61d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA