| Selasa, 03 Januari 2006 | SEMARANG |
Kali Buntu Meluap, Puluhan Ha Padi TerendamKENDAL - Prediksi bakal meluapnya air sungai di wilayah Kendal pada musim hujan kali ini menjadi kenyataan. Akibat meluapnya air Kali Buntu, Senin (2/1) pagi, puluhan hektare lahan persawahan padi milik warga di wilayah Kelurahan Jetis dan Langenharjo, Kecamatan Kendal, terendam banjir. Hingga pukul 15.00, genangan air di sawah, yang mencapai ketinggian 50 cm tersebut, belum surut. Kondisi itu menyebabkan tanaman padi, yang rata-rata berumur 2-4 minggu, di persawahan itu mati. Diperkirakan kerugian tersebut mencapai puluhan juta rupiah. ''Tanaman padi saya baru berusia sekitar dua minggu. Akibat terendam banjir, hampir dipastikan tanaman padi muda itu mati. Untuk menanam bibit baru, saya tak memiliki modal lagi,'' ungkap Mitro (70), petani di Kelurahan Langenharjo. Hal senada juga dikatakan petani lain, Suprapto (53). ''Untuk menanam padi usia dua minggu milik saya di lahan seluas 3.000 m2 diperlukan biaya sekitar Rp 500.000. Biaya itu disalurkan untuk membeli bibit padi jenis C4, pupuk urea, membayar tenaga tanam, dan ongkos membajak sawah dengan mesin traktor,'' paparnya. Selain merendam areal persawahan sedikitnya 25 hektare, luapan air Kali Buntu juga menggenangi puluhan halaman rumah warga di Kelurahan Bugangin serta Jetis. Banjir juga menggenangi halaman SDN 2 Langenharjo dan sejumlah titik jalan kampung di Kendal Kota, seperti, jalan antara di depan SMAN 2 Kendal dan jalan kecil di tepi selatan Kali Buntu. Berdasar pengamatan Suara Merdeka di lapangan, tanda-tanda bakal meluapnya Kali Buntu mulai terlihat sejak dua hari sebelumnya. Guyuran hujan yang merata di daerah hulu dan Kendal Kota, yang terjadi sejak dua hari terakhir, menyebabkan permukaan air sungai naik drastis mendekati bibir tanggul. Padahal, sungai tersebut, beberapa waktu lalu, baru saja dinormalisasi. Hujan di Hilir Sungai Hingga kemarin siang, wilayah Kendal Kota tidak diguyur hujan, namun permukaan air sungai masih tinggi. Bahkan, nyaris meluap ke jalan yang terletak di sisi selatannya. ''Meluapnya air Sungai Buntu lebih diakibatkan oleh hujan deras di daerah hilir. Jadi, hal itu karena faktor alam,'' kata Kasubdin Bina Program Dinas Pengairan Pemkab Kendal, Totok Pujo Buntoro, saat ditemui di kantornya, kemarin. Daerah hulu yang hujan adalah di Kecamatan Pegandon,'' ujarnya. ''Sejauh ini, penanganan terhadap banjir sudah diupayakan dinas secara optimal, yaitu dengan menormalisasi aliran sungai tersebut. Meluapnya air sungai tampaknya sulit dihindari. Normalisasi sungai tetap bermanfaat, dalam hal ini mengurangi lama waktu genangan,'' ungkapnya. Kondisi sebelum normalisasi, lanjut dia, diperkirakan genangan air tersebut baru surut 24 jam kemudian. ''Setelah normalisasi, saat ini genangan air maksimal berlangsung 12 jam. Terkait dengan banjir tersebut, kami mengimbau kepada petani untuk membersihkan saluran air di sawah, yang dipastikan akan tertumpuk sampah dan sedimentasi. Upaya itu perlu dilakukan agar aliran air di persawahan terjaga kelancarannya,'' lanjutnya. (G15-51h) |