logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 SEMARANG
Line

Guru, antara Tantangan dan Harapan

Oleh: Budiyanto

DALAM Seminar Pendidikan tentang Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Desentralisasi, beberapa waktu lalu, Prof Mungin Eddy Wibowo, Pembantu Rektor I Unnes, yang juga anggota Badan Standar Nasional Pendidikan, memberikan pendapat. Yaitu, salah satu permasalahan dan tantangan pendidikan nasional adalah masih banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya.

Ada sekitar 15% guru yang mengalami missmatch tersebut. Sebuah jumlah yang tidak sedikit dari jutaan guru di Indonesia saat ini. Fenomena guru yang mengajar bukan pada mata pelajaran, yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya itu, sungguh sangat menarik perhatian. Mengapa? Karena umumnya guru yang "kurang beruntung" tersebut bukan hanya masih tinggi jumlahnya, tetapi juga dapat dijumpai di banyak sekolah.

Salah satu penyebab adanya missmatch itu, karena distribusi guru yang tidak merata dan jumlah guru yang belum memadai untuk memenuhi perluasan akses dan pemerataan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Kondisi itu berakibat mata pelajaran tertentu kekurangan guru, sedangkan mata pelajaran lain kelebihan guru.

Solusinya, memberi tugas mengajar tanpa melihat latar belakang pendidikannya merupakan hal biasa. Maka, tentulah berakibat kepada tingkat kelayakan mengajar para guru yang patut dipertanyakan. Di satu sisi, langkah tersebut menjadi solusi dari problem kekurangan guru, tapi di sisi lain dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa, karena terbatasnya penguasaan materi ajar, sehingga apa yang bisa diberikan guru kepada siswa juga terbatas.

Selain itu, rendahnya kompetensi profesional dengan indikator rendahnya kemampuan penguasaan materi pembelajaran dan terbatasnya kemampuan membimbing peserta didik dalam memenuhi standar kompetensi, yang ditetapkan dalam standar nasional.

Bagi guru yang "terpaksa" mengajar bukan bidang studinya, seyogyanya tetap terpacu dan termotivasi untuk memberdayakan diri. Selain itu, rajin mengikuti MGMP, terus belajar untuk mengembangkan profesionalitas, dan memutakhirkan pengetahuannya terus-menerus secara berkelanjutan. Dengan demikian, guru dihadapkan kepada tantangan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan, yang mampu memenuhi apa yang diharapkan para penggunanya.

Sekolah pun harus memahami bahwa guru bukanlah figur yang serba bisa dan dapat mengatasi segala persoalan. Meskipun sebagai pendidik, guru harus memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru bukanlah "pesulap", yang mampu mengubah segalanya menjadi mudah dan terselesaikan. Ketika sesuatu dibebankan kepada yang bukan ahlinya, menugaskan guru mengajar bukan pada bidangnya, maka sebenarnya kita sedang memupus harapan terwujudnya mutu pendidikan kita.

Kalaupun akhirnya harus mengajar mata pelajaran yang tak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, haruskah menjadi alasan untuk mengajar siswa dengan cara-cara membosankan. Tidak menyenangkan, tidak menantang, dan tidak bermakna, hanya karena tidak memiliki bekal keilmuan yang cukup dan kepantasan mengajar? Sebuah harapan yang tidak berlebihan. (56h)

- Penulis adalah guru SMPN 1 Mandiraja, Banjarnegara.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA