| Selasa, 03 Januari 2006 | SEMARANG |
Kembangkan Budaya PembauranSEMARANG - Dalam usianya ke-21 tahun, Yayasan Swagotra Semarang terus berupaya mengembangkan budaya pembauran. Hal itu tercermin dalam berbagai kegiatan yang diadakan, yaitu selalu mempertemukan banyak etnis dan pemeluk agama. Tujuannya, untuk mewujudkan kerukunan bangsa sekalipun mereka berbeda suku, agama, ras, bahasa, dan partai. Demikian ungkap Ketua Umum Yayasan Swagotra Drs Setyadji Pantjawidjaya pada wisuda 33 lulusan kursus pranatacara-medharsabda angkatan ke-38 di Balai Diklat BKK, Jl Supriyadi belum lama ini. Acara itu sekaligus memperingati HUT Ke-21 Yayasan Swagotra. Hadir pada kesempatan itu, Ketua DPD Partai Golkar Jateng Bambang Sadono, budayawan asal Solo N Sakdani, dan pengusaha Haryanto Halim. Menurut Setyadji, komitmen mengembangkan budaya pembauran diimplementasikan lewat grup panembrama. Peserta grup itu tidak hanya dari etnis Jawa, tetapi juga Tionghoa, Jerman, dan Jepang. Selain itu, dalam setiap acara selalu dibacakan doa untuk semua agama yang dipimpin tokoh agama masing-masing seperti Islam, Katolik, dan Hindu. Bahkan ada doa berbahasa Jawa, bahasa dan budaya yang digeluti Yayasan Swagotra. ''Tak hanya itu, dalam paguyuban ini terhimpun kader dan simpatisan beberapa partai. Ada Golkar, PDI-P, PAN, dan Partai Demokrat. Dengan budaya Jawa, kami ingin mengembangkan kesatuan dan kedamaian untuk sesama komponen bangsa,'' ujarnya. Dalam acara yang sederhana itu, suasana Jawa sangat kental. Selain pakaian dan bahasa para peserta, setiap akan dan selesai berbicara selalu diiringi dengan tembang macapat. Acara wisuda juga diisi dengan sarasehan. (C2-56m) |