| Selasa, 03 Januari 2006 | SEMARANG |
Bangun Semarang dengan IdealismeBANYAK generasi muda yang punya idealisme kuat untuk membangun Kota Semarang, membuat Jongkie Tio (64) sedikit bernapas lega. Sebab, penulis buku Kota Semarang dalam Kenangan itu berhasrat besar melihat perkembangan budaya, ekonomi, dan kehidupan Kota Atlas kembali berjaya seperti dulu. ''Sejarah mencatat, Semarang dulu punya pelabuhan besar dan terpenting di Pulau Jawa,'' ungkap dia usai diskusi "Temu Pakar dan Pelaku Seni serta Kerajinan" di Restaurant Semarang, Jl Gajahmada, pekan lalu. Lantaran keinginan yang menggebu tentang idealisme itu, tiap kali bertemu dengan generasi di bawahnya, suami Puspowati Budi Handoyo itu selalu menggiatkan semangat tersebut. Generasi sekarang, ujar dia, harus punya komitmen kuat dan rasa memiliki. Termasuk, terhadap kota kelahiran. Itu semua bisa dibangun dengan idealisme. Paling tidak, orang harus mempunyai idealisme 20%-30 % dalam melakoni hidup, apa pun bentuknya. Hal itu semata-mata demi kesinambungan sejarah dan kebudayaan Kota Semarang. Begitu cinta dan bangga terhadap kota kelahiran, pemilik Restaurant Semarang itu menamakan tempat usaha persis dengan nama kota yang telah memberinya empat anak dan seorang cucu. ''Saya merasa ayem kalau ada yang peduli dan ngurusi kelangsungan kebudayaan dan sejarah Semarang,'' imbuhnya. Menurut Jongkie, hal itu sudah dia lakukan beberapa puluh tahun silam. Momentum yang terjadi di Kota Semarang pun dia abadikan lewat kamera kesayangannya. Bahan Penelitian Hasilnya, ratusan lembar foto hasil bidikan. Selain dia untuk pribadi, sebagian dia cantumkan dalam bukunya yang telah dua kali cetak ulang itu. Jongkie boleh berbangga. Sebab, buku yang ditulis pada 2002 itu menjadi bahan acuan berbagai penelitian. Tak hanya orang Indonesia, warga asing pun kerap merujuknya. ''Buku ini salah satu harta karun terbesar saya karena banyak hal yang orang belum tahu dan bisa disimak di sana,'' ujarnya tanpa bermaksud membanggakan diri. Dia mulai mengoleksi foto tentang Kota Semarang sejak remaja. ''Saya harap, generasi sekarang banyak yang suka sejarah. Kalau tidak kita, siapa lagi?'' ungkap peraih penghargaan foto jurnalistik Adinegoro dari PWI Pusat pada tahun 1983 itu. (Fahmi Z Mardizansyah-37m) |