logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 SEMARANG
Line

Untuk Modal Jualan hingga Bekal Mati

RONA sumringah menghampiri wajah Narimo (72), warga Mlatibaru II/4. Di tangannya tergenggam tiga lembar uang seratusan ribu, yang baru saja dicairkannya. Sementara, Riza (8) cucunya, duduk di sebelahnya dengan mata berbinar-binar.

''Lumayanlah, nggo tambal butuh, untuk belanja kebutuhan sehari-hari,'' ujar Narimo, di sela-sela pembagian Subsidi Langsung Tunai (SLT) di Kantor Pos Johar, Senin (2/1).

Ya, siang itu 440 Kepala Keluarga (KK) dari Kelurahan Mlatibaru dan Kauman, mencairkan uang SLT di Kantor Pos Besar Johar. Narimo, termasuk satu di antaranya. Sebetulnya, ada 554 keluarga dari kedua kelurahan itu yang berhak memperoleh bantuan SLT. Namun, hingga loket ditutup, 114 di antaranya belum terlihat batang hidungnya.

Narimo datang sekitar pukul 10.00, diboncengkan sepeda motor oleh Tukiman, menantunya. Untung saja, pihak Kantor Pos telah mempersiapkan pencairan SLT tahap II dengan baik, sehingga dia tak perlu mengantre.

Hanya duduk sebentar, giliran pun tiba. Setelah menyerahkan kartu SLT dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Narimo memperoleh jatah Rp 300.000 untuk periode Januari, Februari, dan Maret. Lantas, dia pun menggamit lengan cucunya untuk beranjak pulang.

Dia berencana menyerahkan uang SLT itu kepada Sukanah, istrinya. Biasanya, kehidupan mereka berdua ditopang oleh anak-anaknya, yang kini sudah mentas semua. Pasalnya, sejak ''pensiun'' dari tukang becak, praktis tak ada pemasukan bagi keluarganya.

Kalau Narimo menggunakan uangnya untuk tambal butuh, Madinem (72), punya rencana lain untuk jatah SLT-nya. Warga Kelurahan Kauman itu bermaksud menggunakan uangnya untuk menambah modal jualan. Ya, saban hari, istri Eksan (alm) itu, berjualan rokok di Kampung Sumeneban (Ngabangan).

''Bathi jualan rokok itu walaupun ga sepira, bisa untuk makan,'' katanya.

Dengan berjualan itu, Madinem tidak terlampau bergantung pada pasokan dana dari para keponakan, yang pernah diasuhnya. Kebetulan dari perkawinan dengan Eksan, dia mengaku tidak memperoleh keturunan.

Motif yang menarik, terlontar dari bibir tua Rohati (80), warga Kauman. Untuk apa dana SLT-nya, Mbah? ''Kula simpen, kangge jagan-jagan nek kula kapundhut. (Saya simpan, untuk berjaga-jaga kalau saya dipanggil Tuhan).'' Tentu saja, beberapa orang yang duduk menunggu giliran di sebelahnya, terhenyak. Mereka agak kaget mendengar alasan yang ukhrawi itu. ''Sing riyin nggih kula simpen,'' kata Mbah Rohati kalem. (Achiar M Permana-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA