logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 SEMARANG
Line

Kali Tenggang Perlu Penanganan

Kaligawe-Sayung Banjir

SEMARANG - Hujan dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan Jalan Raya Kaligawe kembali banjir. Minggu (1/1) hingga Senin (2/1) siang, air menggenangi sebelah timur Sungai Banjirkanal Timur hingga Sayung Demak, dengan ketinggian 0,5 m. Air berasal dari luapan Kali Tenggang yang melimpas melalui selokan di sisi utara maupun selatan jalan. Sejumlah rumah dan bangunan di sepanjang jalan tampak terendam.

Banjir sempat mengganggu arus lalu lintas di Jalan Kaligawe. Kendaraan, baik dari arah barat maupun timur, harus merayap. Pasalnya, para pengemudi menghindari bagian jalan yang tergenang air. Simpul kemacetan, terjadi di persimpangan jalan tol Seksi C. Di tempat itu, kendaraan tampak berderet panjang. Untuk mengatasi kemacetan, aparat kepolisian melakukan pengaturan dan penutupan sebagian ruas jalan.

Sebagian pengemudi memilih putar haluan ketika mengetahui kondisi jalan.

Beberapa di antara pemakai jalan yang nekat menerabas genangan air, mengalami mati mesin. Anak-anak memanfaatkan kondisi itu dengan cara menawarkan jasa dorong mobil. Senin (2/1) siang, genangan air mulai surut.

Banyak bus maupun angkot yang enggan memasuki Terminal Terboyo. Bus-bus kota yang datang dari arah barat, lebih memilih putar balik di penggalan jalan di Kampung Sawah Besar. Selain itu, angkutan umum yang sudah telanjur menerabas melewati rel KA Kaligawe, putar balik di penggalan LIK Bugangan Baru dan di bawah terowongan Tol Muktiharjo.

Bus-bus yang datang dari timur, memilih putar balik di pertigaan Jl Wolter Monginsidi dan pertigaan jalan tembus Terminal Terboyo. Demikian juga angkutan umum Daihatsu jurusan Genuk-Johar. Mereka menolak mengantar sampai Johar karena takut mogok di tengah jalan.

Imbasnya, banyak penumpang yang terpaksa jalan kaki dari pertigaan jalan tembus menuju ke pertigaan Jalan Terminal Terboyo untuk mencari angkutan umum lain. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berjalan kaki lebih jauh, yakni sampai di terowongan Tol Muktiharjo untuk menunggu bus kota yang putar balik di lokasi itu.

Beberapa motor roda dua mogok karena businya kemasukan air. Beberapa pengendara terpaksa menuntun motor hingga beberapa ratus meter. Di tengah repot menuntun motor, mereka harus menerima terpaan ombak banjir yang cukup kuat akibat deraan laju kendaraan berat, baik yang searah maupun berlawanan arah.

Meskipun banyak warga yang menuntun motor, beberapa pengendara mobil atau kendaraan berat berlaku kurang simpatik. Mereka nekat mengemudikan mobil maupun kendaraan berat, dengan kecepatan tinggi.

Kondisi jalan yang paling parah adalah sekitar Gebanganom, Genuk. Ruas jalan beraspal digenangi air dengan ketinggian 40-50 cm. Ruas jalan yang berlubang juga memicu pengemudi kendaraan berat dan ringan berusaha menghindari ruas jalan itu. Mereka yang datang dari arah barat, mengambil haluan ke kanan melebihi marka jalan.

Kali Tenggang

Pakar Hidrologi dari Undip Dr Ir Robert Johanes Kodoatie mengatakan, banjir di Kaligawe tak bisa lepas dari permasalahan Kali Tenggang. Setiap kali meluap, limpasannya menggenangi ruas jalan itu. Banjir akibat luapan Kali Tenggang selalu terjadi pada musim hujan. Dia mengurai satu per satu persoalan Kali Tenggang. Pertama yang menurut dia harus mendapat perhatian serius adalah land subsidence atau penurunan tanah di bagian muara.

Permukaan tanah di wilayah muara sungai itu setiap tahun turun 10 sentimeter. Jika di bagian muara dipasangi pintu air dan pompa, bangunan-bangunan juga akan ikut turun. ''Maka usia operasional pompa dan pintu air di bagian muara tak bisa lama,'' ungkapnya.

Saat penurunan dan permukaan air semakin tinggi, pompa-pompa itu harus dinaikkan. Dengan demikian, Pemkot harus selalu menyediakan dana untuk keperluan itu. ''Mestinya, Pemkot sejak dulu membuat kajian detail tentang land subsidence. Hasil penelitian itu yang nanti bisa dijadikan pedoman penanganan Kali Tenggang dan sungai-sungai lain.''

Faktor kedua yang menurutnya perlu perhatian serius adalah pertemuan muara Kali Tenggang dan Banjirkanal Timur. Pada saat hujan lebat dengan waktu bersamaan di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang, aliran Banjirkanal Timur lebih besar dibanding dengan Kali Tenggang. Akibatnya, aliran dari Kali Tenggang terhambat. Hambatan aliran air Kali Tengggang ke laut juga terjadi saat rob.

''Selain itu, beban muara Kali Tenggang bertambah karena ada aliran dari Kali Sringin, melalui saluran yang sejajar pantai,'' ungkap dia.

Kali Tenggang yang setiap tahun banjir, juga dipengaruhi perubahan tata guna lahan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Dia memberi contoh fungsi lahan yang semula pertanian menjadi industri atau permukiman.

Luas DAS sungai, menurut dia, 24,8 km persegi. Sementara berdasar versi Pemkot 16.661,67 hektare. Perubahan tata guna lahan itu bukan hanya menambah debit banjir, melainkan juga sedimen atau endapan. Dia menjelaskan, Kali Tenggang dengan panjang 9,5 km adalah sungai yang landai. Karena itu, aliran sungai relatif lebih lambat. (H6,G6,G5-44m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA