logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 INTERNASIONAL
Line

Tiga Pekan Petualangan ke Irak Itu Berakhir

MIAMI - Tiga pekan perjalanan penuh petualangan ke Timur Tengah itu pun berakhir sudah. Berkat bantuan orang tuanya, Farris Hassan tiba kembali di Florida, Negara Bagian AS, Minggu waktu setempat.

Remaja 16 tahun itu nekat pergi sendirian ke Irak tanpa sepengetahun orang tua, hanya demi mengerjakan tugas jurnalistik sekolahnya, sepekan sebelum Natal lalu.

Hassan mengacungkan jempolnya kepada para wartawan saat dia berjalan, dikerumuni anggota keluarganya, ke sebuah mobil yang menunggunya di luar Bandara Internasional Miami.

''Dia sangat kewalahan. Saya tidak mengira dia punya ide tentang semua liputan media itu,'' kata ibunya, Shatha Atiya, kepada wartawan yang berkumpul di luar rumahnya di Fort Lauderdale. ''Dia hanya letih, dia ingin beristirahat.''

Remaja itu bolos pada 11 Desember dan meninggalkan Amerika Serikat, menuju Kuwait. Dari negara emir tersebut dia mengira bisa naik taksi pergi ke Bagdad. Dia ingin menyaksikan pemilihan parlemen di negara yang tengah dikoyak perang tersebut.

Saat itu perbatasan Irak-Kuwait ditutup karena pemilihan, sehingga Hassan memilih tinggal bersama rekan keluarganya di Lebanon, sebelum terbang ke Bagdad pada Hari Natal.

Naik Pesawat Militer

Dia menghubungi kantor Associated Press (AP) di Bagdad hari Selasa lalu (27/12) dan menceritakan maksud petualangannya.

Tujuannya, jelas remaja itu, untuk lebih memahami kehidupan rakyat Irak. Siswa pra-akademi di Pine Crest di Ford Lauderdale itu sedang belajar immersion journalism, yaitu penulis yang baik harus bisa menyelami kehidupan subjeknya.

Dia bisa memperoleh visa masuk ke Irak karena kedua orang tuanya lahir di negara Teluk itu, meski mereka telah tinggal di AS selama lebih dari tiga dasa warsa.

Dia nekat pergi dengan berbekal paspor AS dan uang 1.800 dolar (sekitar Rp 18 juta), namun tidak memberitahu orang tuanya tentang apa yang dia lakukan itu sampai dia tiba di Kuwait dan mengirim mereka e-mail.

Perjalanan panjang Hassan untuk bisa pulang kembali ke negaranya dimulai Jumat lalu, ketika dia menumpang pesawat militer dari Bagdad ke Kuwait, kata ayahnya. Dia melewatkan waktu satu setengah hari di Kuwait dengan penjagaan Airborne ke-10, divisi yang juga menjemputnya dari sebuah hotel di Bagdad.

Seorang pejabat AS kemudian menemani remaja itu naik pesawat dari Kuwait ke Eropa. Dari Eropa dia terbang pulang ke Amerika Serikat, jelas sang ayah, Dr Redha Hassan.

Departemen Luar Negeri telah memperingatkan warga Amerika agar jangan mengunjungi Irak. Sekitar 40 warga AS diculik sejak perang meletus Maret 2003, dan 10 di antaranya dibunuh.

Kini dia telah pulang dengan selamat, dan Hassan memiliki beberapa jawaban untuk sejumlah orang dewasa yang khawatir. Para pejabat Pine Crest School minta untuk bisa bertemu dengan orang tuanya sebelum dia diizinkan kembali masuk sekolah. (ap/yahoo-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA