| Selasa, 03 Januari 2006 | INTERNASIONAL |
Sharon Inginkan Restu WashingtonJERUSALEM - Perdana Menteri Israel Ariel Sharon berencana untuk pada akhirnya menghapus ''peta jalan'' perdamaian hasil rumusan kwartet pimpinan Amerika Serikat. Tetapi, dia malah berupaya mendapat restu dari Washington untuk mencaplok tanah pendudukan di Tepi Barat. Harian Maariv terbitan Jerusalem Senin kemarin memberitakan rencana mengejutkan itu. Meskipun berita itu tanpa sumber, berita tersebut dianggap layak dipercaya. Sebab, rencana Sharon tahun lalu tentang penarikan dari Jalur Gaza juga pertama kali mencuat di media massa melalui pemberitaan seperti itu. Juru bicara Sharon tidak bersedia berkomentar. Menurut harian Maariv, Sharon berpendapat Israel sah-sah saja membatalkan rencana perdamaian dan menentukan perbatasan wilayah secara sepihak karena Palestina gagal menumpas kelompok-kelompok militan. Di depan publik, Sharon masih tetap sangat memegang komitmen pada peta jalan menuju negara Palestina merdeka. Namun, Palestina sudah sejak lama curiga Sharon ingin mendiktekan kebijakan-kebijakannya. Palestina gagal memenuhi kewajibannya untuk mulai melucuti kelompok-kelompok militan. Sedangkan, Israel tidak memenuhi janjinya untuk menghentikan ekspansi permukiman di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sharon akan menyampaikan kepada publik tentang rencana barunya itu setelah pemilu parlemen Palestina bulan ini. Intelijen Israel meramalkan akan terjadi gelombang kekerasan baru usai pemilu itu. Menurut berita Maariv, pejabat Israel sudah memaparkan gagasan itu kepada pejabat-pejabat senior pemerintahan Presiden George W Bush. (rtr-gn-25) |