logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 INTERNASIONAL
Line

Komisi PBB Usut Presiden Suriah

BEIRUT - Komisi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menyelidiki pembunuhan eks Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri meminta bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Menteri Luar Negeri Farouq al-Shara.

''Komisi itu telah mengirim permohonan untuk menanyai Presiden Suriah Assad dan Menlu Shara, serta beberapa pejabat lainnya,'' kata juru bicara komisi PBB itu kepada Reuters, Senin kemarin.

Para penyidik PBB juga akan berusaha bertemu dengan mantan Wakil Presiden Suriah Abdel-Halim Khaddam secepatnya. Namun, para pejabat Suriah belum berkomentar mengenai permintaan PBB itu.

Khaddam mengatakan dalam wawancara televisi Jumat lalu, Assad pernah mengancam Hariri beberapa bulan sebelum dia dibom di Beirut pada 14 Februari 2005. Assad sebelumnya membantah tuduhan-tuduhan seperti itu.

''Perkataan Khaddam itu menguatkan informasi yang diterima komisi PBB sebelumnya dan membenarkan dua laporan komisi,'' kata juru bicara komisi tersebut, yang tidak mau disebutkan namanya. Namun, dia menolak memberikan perincian lebih lanjut.

Laporan sementara PBB Oktober lalu mengatakan, Shara memberikan ''keterangan palsu'' kepada komisi PBB itu. Menlu Suriah itu mengatakan, pertemuan antara Assad dan Hariri berlangsung ramah dan bersahabat.

Keterangan itu bertolak belakang dengan beberapa saksi mata Lebanon. Mereka mengatakan, Presiden Assad mengancam Hariri dalam pertemuan itu.

Hancurkan Pembangkang

Penyelidikan PBB itu telah menyeret sejumlah pejabat tinggi Suriah dan sekutu mereka di Lebanon. Insiden pengeboman yang menewaskan Hariri telah menyulut gelombang demonstrasi anti-Suriah di Beirut.

Demonstrasi itu mendapat dukungan dari masyarakat internasional. Buntutnya, Suriah terpaksa mengakhiri penempatan tentaranya di Lebanon pada April lalu. Damaskus membantah keterlibatannya dalam pembunuhan Hariri tersebut. Sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB Oktober lalu mengancam Suriah akan dikenai sanksi jika tidak bekerja sama dengan tim penyidik.

Dalam wawancara dengan televisi Al Arabiya, mantan Wapres Khaddam membeberkan, ''Assad mengatakan kepada saya bahwa dia telah mengucapkan kata-kata yang sangat kasar kepada Hariri. Ucapannya antara lain: Saya akan menghancurkan siapa saja yang membangkang.''

Namun Khaddam menolak berspekulasi mengenai siapa yang memerintahkan pembunuhan terhadap Hariri. ''Kita sebaiknya menunggu hasil akhir penyelidikan PBB tersebut,'' katanya.

Komentar Khaddam itu membuat berang Damaskus. Sabtu lalu, Parlemen Suriah memutuskan dengan suara bulat untuk mendesak pemerintah mendakwanya karena dia berkhianat pada negara.

Wakil-wakil rakyat Suriah dipilih melalui pemilu. Namun, mereka biasanya berasal dari kelompok-kelompok politik yang dipimpin oleh Partai Baath yang berkuasa di negara itu.

Partai Baath Minggu lalu memecat Khaddam karena berkhianat pada partai, negara, dan bangsa.

Khaddam merupakan salah satu pejabat yang sangat lama bertugas di pemerintahan. Dia pernah menjadi pembantu mendiang Presiden Hafez al-Assad. Saat ini, Khaddam berada di pengasingan di Paris, ibu kota Prancis.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA