logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 EKONOMI
Line

Prospek BEJ Tahun 2006 (2-Habis)

Dominasi Keuangan Keperilakuan

SUARA terompet pun telah membahana menandai tutup Bursa Efek Jakarta akhir tahun 2005. Seolah menggambarkan bahwa para pelaku pasar cukup senang mensyukuri apa yang telah terjadi dalam kurun waktu tahun 2005. Ketika diantara mereka ditanya bagaimana kinerjanya selama tahun 2005, mereka menjawab lumayan, meski mereka menyatakan bahwa kinerja yang diperoleh tahun 2006 lebih rendah dari apa yang diperolehnya tahun 2004.

Perkembangan Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2005 cukup positif fluktuatif yang menggambarkan bahwa pola perilaku investor umumnya masih cenderung pola investasi jangka pendek. IHSG pada akhir tahun ditutup pada posisi 1.162,6. Dibandingkan dengan posisi 1.000,2 pada awal tahun berarti keuntungan pasar selama periode 2005 sebesar 16,4%. Keuntungan pasar tersebut memang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan keuntungan pasar tahun 2004 sebesar 42%.

Perkembangan posisi indikator ekonomi menunjukkan perkembangan yang menurun. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) awal tahun pada posisi 7,42% dan akhir tahun sebesar 12,75%. Kurs rupiah terhadap dolar AS pada awal tahun sebesar Rp 9.290 menjadi melemah di akhir tahun pada posisi Rp 9.830 per dolar AS. Angka inflasi tahun 2004 sebesar 6,4% dan akhir tahun 2005 ditutup dengan angka inflasi sangat tinggi pada posisi 17%-18%.

Ketika sebagian diantara para investor ditanya, bagaimana prospek tahun 2006, mereka secara sederhana menjawab mudah-mudahan lebih baik. Ketika ditanyakan lebih lanjut mengapa demikian, mereka memberikan jawaban ''Kan ada Pak Boediono.'' Hal tersebut menggambarkan sebagian dari suara pasar dalam melihat prospek Bursa Efek Jakarta tahun 2006.

Tahun 2006 merupakan periode recovery sesudah adanya dampak kenaikan BBM periode sebelumnya. Dalam periode recovery tersebut akan terjadi pola perkembangan yang agak berbeda antara semester I dan semester II. Pada semester I perkembangannya akan lebih diwarnai oleh aspek keuangan keperilakuan. Sedangkan pada semester II aspek ekonomi akan lebih mendominasi perkembangan bursa.

Keuangan keperilakuan mempelajari bagaimana perilaku para pelaku pasar yang terkadang tidak selalu berdasar rasionalitas tetapi atas dasar pertimbangan faktor perilaku. Seorang profesor (Ritter) dari Universitas Florida mengungkapkan tentang salah satu bentuk keuangan keperilakuan yaitu overconfidence. Dikatakan bahwa orang cenderung akan berpola pikir dan bertindak selaras dengan apa yang dikenalnya secara baik.

Emosional

Warna perkembangan kinerja bursa pada triwulan I tahun 2006 akan cenderung relatif sama dengan perkembangan yang terjadi pada triwulan keempat tahun 2005. Jika dilihat dari perkembangan indikator ekonomi maka perkembangan IHSG triwulan I akan cenderung stagnan mengingat bahwa kinerja indikator ekonomi triwulan I masih akan relatif sama dengan triwulan ke-4 tahun 2005.

Namun demikian bila dilihat dari keuangan keperilakuan, perkembangan kinerja bursa triwulan I tahun 2006 akan fluktuatif dengan kecenderungan sedikit naik sebagaimana yang terjadi pada triwulan ke-4 tahun 2005. Perkembangannya lebih akan diwarnai oleh aspek keuangan keperilakuan.

Pada periode demikian diperlukan sikap waspada untuk tidak larut emosional ketika terjadi lonjakan indeks yang tinggi maupun ketika terjadi fluktuasi yang rendah. Faktor rasa yang ada pada diri pelaku pasar terkadang melebihi pertimbangan faktor rasio. Jika terjadi lonjakan IHSG yang tinggi pada periode tersebut hakikatnya bukan kenaikan fundamental perusahaan.

Indikasi warna perkembangan tersebut mulai terlihat sejak triwulan ke-4 tahun 2005. Ketika suku bunga SBI naik dari 12,25% menjadi 12,75% secara teoritis cenderung akan melemahkan kinerja bursa.

Tetapi kenyataan menunjukkan keadaan yang lain, justru IHSG mengalami kenaikan. Aspek kepercayaan pasar yang merupakan bagian dari keuangan keperilakuan mendominasi mengalahkan perkembangan aspek ekonomi tersebut.

Keadaan pada semester I tahun 2006 dapat dikatakan sebagai periode recovery. Pada periode tersebut pemerintah akan mengupayakan perbaikan pada indikator ekonomi berupa penurunan suku bunga, inflasi dan penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Meskipun hasil perbaikan belum akan nampak secara signifikan tetapi bukan berarti pada periode tersebut perkembangan bursa akan stagnan.

Sinyal Budiono kepada pemimpin pasar dan para pelaku pasar yang sudah familier dengannya akan menjadikan pemimpin pasar beraktivitas secara dinamis. Jadi meskipun dari aspek ekonomi mendorong perkembangan yang stagnan tetapi dari aspek keuangan keperilakuan ini menjadikan perkembangan IHSG akan tetap dinamis fluktuatif dengan kecenderungan sedikit naik.

Kumpulan dari pelaku pasar yang overconfidence baik investor individual maupun institusional, maka akan mendorong harapannya terwujud menjadi suatu kenyataan.

Periode recovery akan ditandai dengan perkembangan yang fluktuatif pada bursa efek. Periode demikian akan memberikan peluang keuntungan optimal bagi investor asing atau investor institusional. Sedangkan bagi investor individu atau investor kecil jika orientasi investasinya jangka pendek maka keuntungannya tidak akan optimal.

Peluang investasi akan cenderung optimal bila orientasi investasinya paling tidak dengan holding periode atau periode investasi melewati sampai semester II. Kewaspadaan perlu ditingkatkan jika orientasi investasinya jangka pendek.

Pada periode semester II tahun 2006 bersamaan dengan prediksi optimis membaiknya indikator ekonomi berupa bunga pada level satu digit, kurs rupiah menguat menuju Rp 9.500 dan inflasi level satu digit, maka membuka peluang lebih besar bagi perkembangan kinerja pada Bursa Efek Jakarta.

Situasi kondisional tersebut pada umumnya berdampak memberikan peluang keuntungan optimal pada para investor secara keseluruhan.

(Prof Dr Sugeng Wahyudi, pengelola program doktor pada FE Undip-59).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA