| Selasa, 03 Januari 2006 | BANYUMAS |
''Paling Bawa Seng yang Baru Dipasang...''''SOAL bangunan tambahan, saya kira tidak akan ada yang mempermasalahkan. Tak akan dibongkar atau minta ganti rugi. Paling-paling bawa seng yang baru dipasang karena sayang, itu pun kalau ada.'' Demikian penuturan Bu Yoyo (50), penghuni kios Blok D terminal bus lama Purwokerto, kemarin sore. ''Terus terang, saya akan bawa kaca depan. Itu saya beli sendiri, asli sudah pecah kena batu yang terlontar akibat terlindas ban bus. Selama 26 tahun, lima kali pecah,'' tuturnya. Dia mengaku tak banyak melakukan perubahan pada bangunan yang dipakai untuk usaha rumah makan itu. Dia menempati kios terminal bus yang dibangun pada 1979. Perubahan hanya menambah dapur belakang dan memasang wastafel. Saat pindah, wastafel akan dibawa tetapi dapur ditinggal. ''Buat apa dibongkar.'' Kayu Jati Bu Yoyo menambahkan, kusen pintu dan jendela depan yang terbuat dari kayu jati, masih bagus belum ada yang keropos. Demikian juga kios-kios lain. ''Kayunya bagus,'' ungkapnya. Dulu ketika baru menempati bangunan itu, belum ada jaringan listrik dan pipa PDAM. Dia lalu membiayai pemasangan kedua fasilitas itu. Walau demikian, saat akan pindah ke terminal baru, dia tak menuntut ganti rugi. ''Kami berterima kasih sudah mendapat kesempatan berusaha di tempat ini selama puluhan tahun,'' tutur koordinator Blok D. Pemilik kios lain di Blok C No 1 Riyanto (48) juga menyatakan tak akan mempersoalkan bangunan tambahan. Dia telah mengganti lantai ruang berukuran 4x7 m itu dengan keramik. Langkah itu atas kehendak sendiri agar rumah makan terlihat bersih dan menarik pembeli. ''Dengan usaha di sini, saya bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, dan sebagainya. Itu sikap saya, tak tahu yang lain,'' ujarnya. Dia menempati kios sejak terminal dibangun pada 1979. Saat itu harga Rp 2,6 juta ditambah uang kunci Rp 100 ribu. Saat itu jumlah itu terhitung banyak. Menurutnya, selama menempati kios, tak banyak biaya yang dikeluarkan untuk merawat bangunan. Paling mengganti pintu yang jebol. ''Wajar karena dipakai bertahun-tahun,'' tuturnya. Pada terminal bus lama, terdapat 75 kios. Sebagian besar dipakai untuk usaha rumah makan, lainnya untuk toko material bangunan, minyak wangi, dan agen bus. (Budi Hartono-55m). |