logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Sepi dan Bangkrut, Pedagang Mengadu ke DPRD

  • Ada yang Nekat Transmigrasi

BANJARNEGARA - Pedagang pasar sayur yang berada di pasar penampungan Stadion Banjarnegara, Senin (2/1) siang mendatangi gedung DPRD setempat untuk mengadukan nasib. Mereka mengaku bangkrut dan terancam tak bisa bertahan jika keadaan pasar panampungan terus sepi pembeli, sementara sejak setahun lalu pembangunan pasar sayur tak kunjung selesai.

Para pedagang yang menamakan diri Masyarakat Pasar Peduli Kebangkrutan (MPPK) itu diterima Bupati Djasri, Ketua DPRD Sri Ruwiyati, dan sejumlah anggota Komisi C di ruang rapat Panitia Anggaran. Kebetulan, hari itu baru digelar sidang paripurna DPRD sehingga MPPK bisa bertemu dengan para pimpinan daerah tersebut.

Koordinator MPPK Suprapto mengungkapkan, kondisi para pedagang yang dipindah ke pasar penampungan saat ini memprihatinkan. Sebagain besar bangkrut dan selebihnya menuju kebangkrutan. Ini terjadi karena pasar penampungan sepi pembeli.

''Akibatnya, saat ini mereka modal mereka menipis dan sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya itu, oleh bank kami telah dicap sebagai nasabah mblendet karena tak mampu membayar cicilan kredit. Keadaan ini semakin menyulitkan hidup kami. Padahal pembangunan pasar sayur belum jelas kapan akan selesai'' tuturnya.

Transmigrasi

Pedagang lain Sugeng Asegaf mengatakan, pedagang telah merelakan sebagaian besar harta untuk menutup utang dan mengatasi kesulitan modal. Tak sedikit yang terpaksa menjual tanah, kendaraan, dan rumah untuk menutupi kerugian usaha.

''Sudah banyak yang gulung tikar dan beralih usaha. Bahkan, ada pula yang terpaksa menjual rumah dan berangkat transmigrasi ke Riau,'' tuturnya.

Karena itu, dia berharap Pemkab memberikan bantuan berupa subsidi modal bagi para pedagang yang saat ini bangkrut dan menuju kebangkrutan. Sebab untuk bisa mendapatkan pinjaman dari bank, kemungkinan sangat sulit.

''Selain itu, kami memohon agar diberikan keringanan dalam pembayaran kios jika memang nanti pasar selesai dan kami dipindah ke pasar baru,'' pintanya.

Berkaitan dengan hal itu, Bupati Djasri menegaskan, sebenarnya pembangunan pasar merupakan solusi atas tabrakan waktu berjualan antara pedagang pasar pagi dan pedagang pasar sayur. Selain itu, proses pembangunan pasar melibatkan sejumlah pihak, di antaranya DPRD dan para pedagang.

''Sayang, investor tak bisa menyelesaikan pembangunan tepat waktu sehingga sampai saat ini pasar belum selesai. Karena itu, kami memohon maaf pada para pedagang.''

Terhadap subsidi modal bagi pedagang, dia menyatakan akan membicarakan masalah itu dengan DPRD. Sebab untuk menentukan bentuk kredit, syarat-syarat dan jumlah calon penerima harus melalui survei terlebih dahulu.

Sementara untuk membantu pedagang dalam hal pembayaran kios, Bupati mengaku tengah berusaha meminta bank agar bersedia menjamin para pedagang. Dengan sistem ini, pedagang punya hak pakai kios 12 tahun. (mos-55m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA