| Selasa, 03 Januari 2006 | BANYUMAS |
Modal Jualan Kambing Kurban Capai Rp 1 MiliarSEJUMLAH artis Ibu Kota ternyata menyukai kambing kurban dari Purbalingga. Dibandingkan dengan daerah lain, kambing Purbalingga mempunyai ciri khas. ''Mereka lebih menyukai kambing yang jogrog, yaitu agak tinggi, kurus, dan bulu berdiri. Mungkin ibarat manusia, kambing yang disukai adalah yang tinggi semampai,'' kata Mustofa, seorang pedagang kambing. Mustofa adalah salah seorang dari 34 warga Desa Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, yang menjadi pedagang kambing kurban di Jakarta. Mustofa menggeluti usaha berdagang kambing menjelang Idul Adha di Ibu Kota, sejak 1983. Selama kurun waktu itu, banyak artis yang membeli kambing dari dia, termasuk Rano Karno dan keluarganya. ''Saya membuka usaha di kawasan Jembatan Merah, Tebet, dan Cilandak. Yang dagang hewan kurban dari Purbalingga tidak hanya dari Kecamatan Karanganyar, tetapi juga Kaligondang dan Karangreja. Namun yang paling banyak dagangan ataupun pedagangnya, ya hanya sini,'' ujar dia, yang juga Kepala Desa Karanganyar itu. Karena sudah lama berdagang kambing, dia kini paham selera orang Jakarta. Dia pun mempunyai banyak pelanggan. Karena itu, setiap kali ke Ibu Kota, dia membawa berbagai jenis kambing yang bisa dipilih pelanggannya. ''Jika ada kambing tidak laku, saya jual ke rumah potong di Jakarta,'' kata bapak satu anak itu. Keberhasilannya menjadi pedagang hewan kurban musiman, menarik minat tetangganya yang juga merantau di Jakarta. Mereka yang semula hanya berdagang kasur, setiap menjelang Idul Adha jadi pedagang kambing dan sapi. Dampaknya, menjelang Idul Adha, suasana Desa Karanganyar mirip peternakan kambing dan sapi. Ajukan Pinjaman Bagi pedagang musiman itu, membeli ternak bukan hal yang mudah. Apalagi, mereka bukan pedagang besar. Karena itu, mereka mengajukan pinjaman ke PD BPR BKK Karanganyar Rp 20 juta-Rp 50 juta per orang dengan tempo pembayaran satu bulan. Jumlah pinjaman untuk modal beli kambing dan sapi pada tahun ini hampir mencapai Rp 1 miliar. Modal itu digunakan untuk membeli ratusan kambing dan sapi dari berbagai daerah di Jateng. Darmanto, seorang warga menuturkan, tahun ini dia mengumpulkan 306 kambing dan 12 sapi. ''Saya optimistis, kambing dan sapi yang akan saya jual di Jakarta ini laku,'' tuturnya. Sementara Imam Sofyan, warga lainnya menegaskan, dalam bisnis ini dia harus bisa mendapatkan untung. ''Kami harus bisa mencapai target penjualan, karena modal yang dipakai adalah utang yang harus dikembalikan. Walaupun waktunya singkat, tetapi biasanya banyak yang laku,'' kata Imam, yang kali ini menjual 180 kambing dan 24 sapi. Menurut para pedagang, kambing biasanya dijual di Jakarta seharga Rp 550.000-Rp 1,1 juta/ ekor, sedangkan sapi Rp 5,5 juta-Rp 12 juta/ ekor. Dari penjualan kambing, mereka bisa mendapat keuntungan bersih Rp 200.000/ ekor, sedangkan keuntungan kotor sapi mencapai Rp 1 juta. Namun setelah Idul Adha, mereka pun kembali menjadi bakul kasur di Jakarta. (Arief Noegroho-55d) |