logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Januari 2006 BANYUMAS
Line

Ditemukan Pengawet Sejenis Formalin

  • 50 Pedagang Makanan Dipanggil

PURWOKERTO - Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), kemarin menurunkan tim ke lapangan untuk mengambil sampel makanan yang dicurigai mengandung formalin seperti mi, bakso, dan tahu.

Dalam pengambilan sampel itu ditemukan jenis makanan yang mengadung bahan pewarna dan pengawet sejenis formalin. Di antaranya jenis rodamin, borak, dan perasa makanan.

Kepala Dinas Kesehatan dokter gigi Khalid Khan mengatakan, selain mengambil sampel makanan, pihaknya juga telah memanggil sekitar 50 pedagang makanan. Mereka dibawa ke Dinas Kesehatan untuk diberi penyuluhan dan pengertian sehingga diharapkan pedagang yang lain juga memperoleh informasi yang sama melalui mereka atau perkumpulan yang ada.

''Di Banyumas kan pedagangnya banyak sekali, jadi mangga yang 50 orang itu menyebarluaskan informasi kepada yang lain.''

Khalid juga mengatakan, kalau mau membuat makanan dengan pewarna jangan menggunakan pewarna yang bukan untuk makanan. ''Kami minta para perajin makanan melakukan kegiatannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak memakai formalin dalam membuat makanan,'' katanya.

Dinas Kesehatan juga sudah melakukan tes kimia, tes bakteri untuk sampel beberapa makanan di beberapa sekolah di Purwokerto. Hasilnya baru dapat diketahui 1-2 hari mendatang. Jika positif diketahui ada pedagang makanan yang menggunakan formalin, akan ditindaklanjuti dengan pemberian peringatan agar mereka melakukan kegiatan sesuai dengan ketentuan.

Masyarakat juga sudah diminta mencari informasi mengenai bahaya penggunaan formalin dan bahan pewarna makanan lainnya. Bila membutuhkan informasi, dinasnya juga siap memberikan.

Formalin merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk pengawet. Namun bukan untuk mengawetkan makanan, biasanya digunakan di pabrik-pabrik. Biasanya bahan pengawet itu digunakan untuk mengawetkan mayat.

Dua Kali Seminggu

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Hedi Oro Manu, kemarin mengatakan, secara rutin pihaknya melakukan pengawasan terhadap barang beredar dua kali seminggu. Barang yang diawasi itu menyangkut masa kedaluwarsa, barang tak berlabel, barang bersubsidi, dan barang-barang yang mengandung bahan berbahaya.

''Pengawasan tak hanya dilakukan terkait dengan munculnya isu formalin saja. Tentang isu formalin, pihaknya bersama Dinas Kesehatan juga telah turun ke lapangan mengambil sampel produk makanan dan minuman dari industri yang patut dicurigai menggunakan bahan pengawet berupa formalin,'' jelasnya.

Akan tetapi, kata dia, untuk mengetahui apakah bahan makanan tersebut mengandung formalin, harus diperiksa di laboratorium yang ada di Semarang atau Yogya lebih dulu.

Apabila sampel yang diambil ternyata ditemukan mengandung formalin, asal-usulnya pun harus dilacak. Apakah formalin yang ditemukan pada makanan itu diberikan pada saat proses produksi atau justru dari bahan bakunya sudah mengandung formalin.

Ia mencontohkan produk makanan ikan yang ada di Banyumas. Bahan baku ikan yang diambil dari daerah lain tak menutup kemungkinan sudah mengandung formalin untuk pengawetnya. Sesampai di Banyumas, hanya tinggal diolah sebagai barang matang. (G22,G23-55n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA