logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Januari 2006 SALA
Line

Penjualan Makanan Basah Dipantau Ketat

KARANGANYAR - Makanan dengan kadar bahan kimia berbahaya banyak ditemukan beredar di sejumlah pasar tradisional di Karanganyar. Dalam pemeriksaan yang dilakukan aparat Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat belum lama ini, ditemukan berbagai jenis makanan basah yang mengandung bahan kimia formalin (pengawet mayat), rodhamin B (pewarna tekstil), methanil yellow (pewarna tekstil), dan asam borax.

Beberapa jenis makanan tersebut yakni terasi yang menggunakan methanil yellow atau pewarna berbahaya, bakso menggunakan asam borax, kerupuk (rodhamin B atau pewarna berbahaya), mi basah (formalin), dan cendol yang menggunakan pewarna tekstil dengan kadar membahayakan.

"Kami pernah menemukan sejumlah makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya di sejumlah pasar tradisional. Biasanya, makanan tersebut merupakan produk siap konsumsi yang sulit dipantau Dinkes dalam proses produksi ataupun bahannya," ujar Kasi Kefarmasian dan Pengawasan Obat Dinkes Karanganyar, Dra Anik Dwiyanti Apt, kemarin.

Menurut Anik, pengendalian dan pengawasan penggunaan bahan kimia dalam makanan merupakan kewenangan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Semarang. Sementara Dinkes hanya berwenang melakukan pembinaan terhadap produsennya.

Terkait dengan itu, Dinkes sejak beberapa tahun lalu secara rutin memberikan pembinaan pada industri kecil ataupun rumah tangga yang memproduksi makanan agar tidak menambahkan bahan kimia berbahaya. Selama ini, pihaknya terus melakukan penyuluhan kepada para pengusaha makanan dan minuman cara membuat makanan atau minuman yang baik, tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

Setelah itu, baru instansinya mengeluarkan sertifikat sebagai jaminan produk tersebut aman dikonsumsi. ''Sebelum diterbitkan sertifikat, kami meneliti ke industrinya, bahannya apa saja, campurannya apa, memenuhi persyaratan atau tidak dan sebagainya. Kalau sudah memenuhi syarat, baru sertifikat diterbitkan untuk setiap jenis produk makanan atau minuman.''

Anik mengakui, pembinaan dan pengawasan paling sulit dilakukan terhadap produsen makanan siap santap yang dijual di pasar-pasar tradisional ataupun sekolah. "Untuk pembuat makanan dalam skala kecil, sulit sekali dipantau,"katanya. (G18-36d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA