| Senin, 02 Januari 2006 | RAGAM |
TASAWUF INTERAKTIFBeramal Mengharap PahalaT: Assalamu'alaikum wr.wb. Yth Bapak Prof. Amin Syukur, saya telah mempelajari buku tentang keikhlasan. Ikhlas dibagi dua, yakni ikhlash beramal, yaitu beramal semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, sementara ikhlas mencari pahala ialah beramal untuk mendapatkan pahala. Sedang riya' (pamer) ialah beramal ingin mendapat balasan pahala akherat. Kesimpulan saya bahwa ikhlas nomor dua termasuk riya' (pamer). 1. Bagaimana seharusnya ibadah yang benar ? 2. Bagaimana status ibadah untuk mencari kebaikan dunia, misalnya shalat istikharah untuk mendapatkan pilihan terbaik baginya dan shalat dluha dengan mendapatkan rizki ? Wassalamu'alaikum wr.wb. Ali di Batang J: Saudara Ali, memang amal kebaikan harus disertai niat yang tulus karena Allah SWT, inilah yang disebut ikhlas. Sifat ini harus diwujudkan dalam semua hal, baik mengamalkan ataupun meninggalkannya. Kebalikan daripadanya disebut riya'. Mengamalkan sesuatu atau meninggalkannya karena selain Allah disebut riya'. Ada orang beramal baik itu mengharap pahala akherat tetapi ada juga yang mengharap ridla Allah. Kedua-duanya bisa dibenarkan, karena keduanya mempunyai landasan dalam Alquran. Hanya saja berada pada tingkatan (maqam) nya masing-masing, ada yang beramal berada dalam tingkatan pemula dan ada pula yang beribadah sudah pada tingkatan lajut. Bagi pemula, yang diharapkan adalah hadiah berupa materi, seperti rizki, sorga dan sebagainya. Sikap tersebut bisa diibaratkan anak kecil. Tentu tidak demikian bagi seorang dewasa, beribadah tidak lagi materi yang diharapkan, tetapi kepuasan hati dan ridla (kepuasan) Allah SWT. Model-model ibadah seperti ini dibenarkan oleh Alquran, misal disebutkan dalam surah Ghafir/40:40 yang artinya: ''Barangsiapa yang amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam kondisi beriman kepada Allah, mereka akan dimasukkan ke dalam sorga dan di dalamnya diberi rizki tanpa diperhitungkan sedikitpun''. Ayat ini memberi rangsangan untuk beramal kebaikan, dengan janji akan diberi pahala, berupa sorga dan rizki. Sama halnya orang yang melaksanakan shalat misalnya istikharah untuk mendapatkan pilihan terbaik, atau melaksanakan shalat Dluha atau membaca surah Waqi'ah (surah 56) untuk mendapatkan rizki, adalah sah. Dan hal tersebut sesuai dengan perkembangan psikis seseorang. Dorongan menjalankan suatu kebaikan itu menjadi semangat apabila ada rangsangan berupa materi. Di lain ayat lain Alquran menggambarkan yang artinya: ''...... apabila kamu mensyukuri nikmat Allah, pasti sungguh Aku akan menambahinya, dan apabila kamu mengkufurinya, maka sesungguhnya siksa Allah Maha Dahsyat''. (QS.Ibrahim/14:7) Melakukan syukur, karena ada pamrih, yaitu ditambah rizkinya oleh Allah SWT. Tetapi sikap tersebut bersifat sementara, karena bagi seseorang yang sudah dewasa dan telah matang pemikirannya, yang menjadi perangsang bukan lagi materi, melainkan yang diinginkan ialah ridla Allah SWT. Firman Allah dalam surah al-Baqarah/2:207: ''Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari ridla Allah dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya''. Dalam ayat yang lain Allah menandaskan, ''Apabila kau mau bersyukur, maka Allah akan meridlaimu ....''(QS.Al-Zumar/39:7). Di sini Allah menyatakan bahwa ada juga orang yang bersyukur karena yang diinginkan adalah keridlaan-Nya. Dan ini adalah tingkatan spiritual tertinggi di sisi Allah SWT. Ada hadits Nabi Muhammad saw, yang menyatakan : Dunia adalah hijab (penghalang) terhadap akherat, sementara akherat adalah hijab terhadap Allah. Maksudnya ialah orang yang hanya mengejar dunia akan melupakan akherat, sementara orang yang mengejar akherat, seperti mengejar pahala dan takut siksa-Nya, akan melupakan Allah. Dengan demikian, bagi seseorang yang kualitas imannya sudah kuat, maka yang dicari adalah ridha-Nya. Di sini perlu ditegaskan bahwa niat itu di dalam hati. Niat ikhlas tidak harus disembunyikan, tetapi bisa juga diperlihatkan. Misalnya ada seorang menampakkan infaknya, dengan tujuan memberi motivasi dan memberi contoh kepada orang lain agar menirunya, tetapi hatinya tetap ikhlas. Allah berfirman : ''Jika kamu nampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali, dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu .....'' (al-Baqarah/2:271). Dengan demikian orang yang beramal dengan menampakkannya akan mendapat dua pahala, yakni pahala amalnya dan pahala ditiru oleh orang lain, tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya. Demikian, semoga ada manfaatnya.(12) |