| Senin, 02 Januari 2006 | RAGAM |
Akan Dibuat Bendungan Bawah Tanah di Gunung KidulDENGAN dibangunnya bendungan bawah tanah, diharapkan keringnya tanah dapat diatasi. Langkah tersebut merupakan yang pertama kalinya di dunia yakni membangun sebuah bendungan di bawah tanah. Proyek akbar ini adalah hasil kolaborasi antara para ilmuwan Jerman dari Universitas Karlsruhe dan pemerintah Indonesia dalam menanggulangi masalah kekeringan di Gunung Kidul. Tujuan akhir pembuatan bendungan bawah tanah tersebut adalah menyediakan pasokan air yang cukup bagi delapan puluh ribu penduduk saat musim kemarau tiba. Namun, menurut Peter Oberle dari Institut untuk Pembangunan Air dan Perairan di Karlsruhe, membangun sebuah bendungan disana bukanlah hal yang mudah. Menampung Air Tanah Tanah di daerah Gunung Kidul sebenarnya cukup subur. Banyak sungai bawah tanah di dalamnya, tetapi kebanyakan airnya terbuang mengalir ke Samudera Hindia. Karena itulah, diadakan proyek pembangunan bendungan raksasa untuk menjadi penampung air. Peter Oberle menerangkan proses dan fungsinya. ''Di gua ini kami memiliki potensi sumber daya air yang luar biasa. Debit airnya pun cukup besar. Satu sampai dua meter kubik setiap detiknya, bahkan juga di musim kemarau. Tetapi gua ini juga memiliki morfologi tanah yang berbeda-beda, yang justru dapat dimanfaatkan. Idenya adalah membendung sungai bawah tanah. Setelah dilakukan penelitian, kami menarik kesimpulan bahwa bendungan dengan ketinggian dari 10 sampai 15 meter dapat dibangun disini''. Air Cukup Tersedia Gua yang bernama ''Gua Bribin'' terletak di wilayah Gunung Kidul ini memang cocok digunakan sebagai lokasi proyek. Kapasitasnya untuk menampung air mencapai hampir setengah juta meter kubik. Dan jika proyek ini berhasil, cadangan air yang tersedia akan mencapai dua ribu liter per detik. Saat ini jatah pasokan air adalah sebanyak 10 liter per kapita dan tujuan akhir proyek adalah 80 liter per kapita. Namun sebelum ini tercapai, air harus dinaikkan ratusan meter menuju ke permukaan tanah terlebih dahulu. Untuk itu para pakar dari Karlsruhe menggunakan teknik pompa yang unik untuk menekan biaya operasional yang tinggi. Kendala Pembangunan Penghematan biaya, petualangan di gua bawah tanah, dan harus berendam di dalam air selama penelitian berlangsung, bukanlah masalah yang paling pelik yang harus dihadapi tim Oberle. ''Masalah utama proyek ini adalah lapisan batuan kapur yang berpori-pori. Masih ada kemungkinan, bahwa bendungan tidak akan mencapai 15 meter, karena aliran air sebelumnya telah mengalir melewati batuan gamping yang poros. Mengalir ke pinggiran ke lapisan batu gamping yang lain atau ke lapisan yang berada di bawahnya. Ini adalah kekhawatiran kami yang paling besar''. Tantangan berikutnya masih harus dipecahkan. Seperti misalnya, bagaimana air dari bak penampungan dialirkan ke penduduk yang membutuhkannya. Karena masyarakat di kawasan itu tinggal secara tersebar. Untuk dapat mendistribusikan air maka disana harus dibangun pula jaringan pembagian air. Mudah-mudahan segera terealisasi.(Tiksna/dw-world.de-12) |