| Senin, 02 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Kegagalan Indonesia di SEAG Jadi Pelajaran JatengSEMARANG- Prestasi jelek Indonesia pada SEA Games XXIII di Manila lalu, hendaknya menjadi pelajaran bagi Jateng dalam menyongsong PON XVII di Kalimantan Timur, 2008 mendatang. Artinya, persiapan Jateng ke PON (Pekan Olahraga Nasional) harus dilakukan sedini mungkin agar mencapai hasil maksimal. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Ketua Umum KONI ( Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jateng Murdoko dalam acara peringatan HUT Ke-39 KONI dan pemberian tali asih kepada atlet serta pelatih yang berprestasi di SEA Games, di ruang pertemuan KONI Jateng, Sabtu lalu. ''Kegagalan Indonesia di Manila, harus dijadikan pelajaran Jateng. Jangan sampai posisi yang kita tempati melorot ke bawah. Sebab kami sudah mencanangkan untuk merebut posisi III pada PON Kaltim. Sekarang, kami sudah bosan dengan peringkat IV,'' katanya. Kontingen Indonesia di SEA Games Manila, hanya mampu menempati peringkat V, di bawah Filipina, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Dari 49 medali emas yang direbut oleh Kontingen Merah Putih, delapan medali di antarannya merupakan sumbangan dari atlet-atlet Jateng, sehingga jika dihitung, Jateng menyumbangkan medali di atas 20 persen. Dari delapan medali emas itu, tiga medali emas diperoleh dari cabang tenis lapangan (nomor beregu, tunggal dan ganda putri) atas nama Wynne Prakusya, cabang renang dua medali atas nama Donny B Utomo dan Herry Widiyanto, pencak silat juga dua medali atas nama Ronny Saifullah dan Harris Nugroho, serta dari cabang judo atas nama Endang Sri Lestari. Secara keseluruhan, Jateng menyumbangkan delapan medali emas, 16 medali perak dan 24 perunggu dari 52 atlet dan delapan pelatih. ''Hasil tersebut cukup membanggakan, karena Jawa Barat yang menempati peringkat III PON XVI Palembang, hanya bisa menyumbangkan enam medali emas,'' tandasnya. Sementara itu, Wagub Jateng Drs H Ali Mufiz MPA mewakili Gubernur Jateng H Mardiyanto, yang hadir dalam acara tersebut menyerahkan tali asih. Sekeping medali emas perorangan mendapat Rp 17,5 juta, medali perak Rp 9 juta, medali perunggu Rp 6 juta. Beregu Rp 15, Rp 7 juta dan Rp 4 juta. Sedangkan pelatih menerima Rp 7,5, Rp 5 juta dan Rp 3,5 juta. PON Dimajukan Sementara itu, untuk memenuhi target yang telah dicanangkan, Mordoko meminta kepada atlet-atlet Jateng supaya tidak terpengaruh oleh iming-iming daerah lain. Karena apa yang telah dijanjikan oleh daerah lain, sifatnya hanya sementara. Padahal, jelas Ketua DPRD Jateng, pihaknya bersama Gubernur Jateng telah melakukan kesepakatan bersama, untuk memperhatikan masa depan atlet-atlet Jateng yang telah berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. ''Kami ingatkan kepada atlet-atlet yang perprestasi, supaya tidak terpengaruh dengan janji-janji dari daerah lain. Harus diingat, janji-janji itu sifatnya hanya sementara, begitu PON selesai Anda akan ditelantarkan. Ada pepatah, ''Habis manis sepah dibuang','' papanya. Disisi lain, orang nomor satu di induk organisasi olahraga di Jateng tersebut, juga ingin memberi kenang-kenangan kepada Gubernur Mardiyanto, yang dinilai begitu besar perhatiannya terhadap perkembangan olahraga di daerahnya. ''Jadi, kalau juara umum III bisa terwujud di Kaltim nanti, akan dijadikan kado untuk Pak Mardiyanto yang masa jabatannya akan berakhir bulan Agustus tahun 2008,'' tandasnya. PON XVII akan dimajukan pada bulan April, atas permintaan Gubernur Kaltim H Suwarna Abdul Fatah, karena masa jabatannya akan berakhir bulan September 2008. Jadi Gubernur Jateng dan Kaltim itu, akan menikmati PON XVII kalau penyelenggaraan PON dimajukan. ''Kami yakin, kalau semua elemen olahraga dan masyarakat Jateng bersatu padu, bukan tidak mungkin target III besar bisa tercapai. Bapak Gubernur juga pernah mengatakan, sebelum masa jabatannya berakhir, beliau ingin kenang-kenangan berupa juara umum III.'' Ali Mufiz yang mendengar langsung ucapan itu berjanji akan menyampaikan janji itu kepada Mardiyanto. Untuk itu, Ali Mufiz meminta supaya KONI Jateng menggandeng fihak swasta, dalam upaya meningkatkan prestasi atlet. ''Sebelum SEA Games Manila dimulai, sebanyak 100 atlet Indonesia berlatih di Cina. Tetapi di tempat yang sama, Filipina telah mengirimkan 300 atlet yang biayanya dari fihak swasta. Jadi kalau hal itu bisa dilakukan oleh Jateng, sebuah impian akan menjadi kenyataan,'' jelasnya. (C16-28) |