| Senin, 02 Januari 2006 | OLAHRAGA |
Federer Ingin Sejarah Grand SlamPARIS - Sementara Roger Federer memimpikan sejarah Grand Slam pada 2006, rekan senegaranya Martina Hingis berdoa agar kembalinya ia ke dunia tenis tidak berakhir memalukan dan menjadi catatan buruk pada akhir tahun nanti. Petenis putra nomor satu dunia itu, yang hanya empat kali kalah dalam 85 pertandingan pada 2005, akan mempertahankan gelar Wimbledon dan AS Terbuka dan berharap untuk merebut kembali mahkota Australia Terbukanya, serta mencoba merebut gelar Prancis Terbuka untuk pertamakalinya. Hingis, yang mengoleksi lima gelar Grand Slam sebelum cedera membuatnya absen selama tiga tahun, hanya berharap tidak akan dibombardir oleh petenis putri lain yang kini lebih bertenaga. Meski baru berusia 24 tahun, Federer telah mengoleksi enam gelar Grand Slam dan diperkirakan sanggup memecahkan rekor 14 Grand Slam milik Pete Sampras, sebelum akhirnya pensiun. Namun jalan menuju kejayaan sejati akan penuh lika-liku dan Federer biasanya mengalami keletihan luar biasa saat ia tiba di Paris setiap musim semi untuk berlaga di Prancis Terbuka. Seperti Sampras, Boris Becker dan John McEnroe, Federer belum juga bisa menyingkap misteri lapangan tanah liat Roland Garros. Penampilannya di semifinal 2005, di mana ia dikalahkan petenis yang kemudian menjadi juara, Rafael Nadal, lebih baik dari tiga penampilan sebelumnya di mana ia tidak bisa lolos dari babak ketiga. Bintang Swiss itu sesungguhnya bisa bermain di tanah liat - dalam tiga dari empat musim terakhir, ia bisa menjuarai Hamburg Masters, turnamen menjelang Paris. ''Saya masih bisa lebih baik di Prancis Terbuka, dan itu sinyal yang bagus,'' kata Federer. Untuk menegaskan tekadnya, ia berencana mengikuti semua dari tiga turnamen Masters lapangan tanah liat di Monte Carlo, Roma dan Hamburg pada 2006 - pertama kali dilakukannya sejak 2002. (ant-28) |