| Senin, 02 Januari 2006 | OLAHRAGA |
BLI Harus Berjuang Ciptakan Kompetisi BersihJAKARTA- Keberadaan Badan Liga Indonesia atau BLI diharapkan bisa menjadi pendorong bagi terciptanya atmosfir yang baik dalam perjalanan sepakbola nasional di tahun 2006. Dalam hal ini BLI harus berjuang keras untuk menciptakan kompetisi yang benar-benar bersih, tanpa dinodai kekerasan berupa perkelahian antarpemain, pemukulan terhadap wasit, tawuran massal antarkelompok suporter, serta dipengaruhi faktor-faktor nonteknis yang selama ini justru dominan mewarnai pergelaran kompetisi di Indonesia. Demikian rangkuman pendapat dari sejumlah pelaku sepakbola nasional dalam menyikapi harapannya di tahun 2006 ini, saat dihubungi secara terpisah Minggu (1/1) kemarin. BLI menyita perhatian karena mulai tahun 2006 inilah institusi tersebut menjalankan tanggung-jawabnya sebagai pelaksana kompetisi sepakbola profesional, yang menjadi pilar dalam perkembangan persepakbolaan Indonesia di masa depan. "Adakah kita punya mimpi yang sama? Tentang sebuah pertandingan sepakbola tanpa luka, kekerasan, penindasan, tanpa air mata. Sebuah pertandingan penuh bunga, damai, berlimpah cinta, canda dan gelak tawa,'' tutur Mafirion, ketua Pengda PSSI Riau. Dari keterangan Pejabat Ketua Umum PSSI Agusman Effendi, impian atau keinginan seperti itu tentunya tidak secara langsung bisa diwujudkan dengan keberadaan BLI sekarang ini. ''Namun sebagai fasilitator BLI harus berusaha keras membuat kompetisi sepakbola di tahun 2006 ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Kompetisi adalah produk yang langsung melibatkan emosi masyarakat pada sepakbola,'' ungkap Agusman Effendi. Menyangkut kompetisi ini, Agusman menyatakan bahwa keinginan menjadikan kompetisi sepak bola di Indonesia benar-benar bersih sebenarnya tidak hanya menjadi tugas BLI, akan tetapi seluruh komunitas sepakbola itu sendiri. Terutama tentunya pemain, pelatih, manajer, dan wasit sebagai unsur yang langsung berinteraksi di lapangan pertandingan. "Peraturan harus betul-betul ditegakan. Kita sendiri telah meratifikasi berbagai peraturan dan regulasi dari FIFA atau AFC, dan itu seharusnya menjadi pegangan insan-insan sepak bola dalam menegakkan kedisiplinan," kata Agusman. Dukungan Yudikatif Tentang penerapan peraturan dan penegakan disiplin ini Djoko Driyono dari BLI berpendapat bahwa kedua hal itu memang memiliki pengaruh yang signifikan dalam perjalanan kompetisi sepakbola profesional yang diinginkan. Masalahnya, kata manajer kompetisi BLI itu, dalam melaksanakan kompetisi yang bersih dan profesional itu BLI tak bisa berjalan sendirian. Pasalnya, dua institusi yang memiliki kewenangan dalam penerapan peratutan dan penegakan kedisplinan tersebut, yakni Komisi Disiplin dan Komisi Banding, berada diluar wilayah BLI. Dengan mengibaratkan BLI sebagai eksekutif, maka Komdis dan Komban adalah yudikatif. "BLI memerlukan dukungan penuh dari kewenangan mereka di yudikatif itu," kata Djoko Driyono. Dalam melaksanakan kompetisi Divisi Utama dan Divisi I BLI memang sudah melakukan berbagai langkah inovasi, misalnya meningkatkan kesejahteraan para perangkat pertandingan, baik wasit atau pengawas pertandingan. (wgm-28) |