| Senin, 02 Januari 2006 | WACANA |
tajuk rencanaDibutuhkan Manajemen Bencana yang Rapi- Beberapa pekan terakhir ini intensitas hujan di sebagian besar daerah Jawa Tengah meningkat. Berbagai bencana alam pun muncul. Mulai angin ribut di Karanganyar, banjir di Cilacap dan Banyumas, serta longsor di beberapa daerah. Memang kejadian-kejadian tersebut masih dalam skala kecil, demikian pula dampaknya sehingga ada kesan kurang memperoleh perhatian besar. Meskipun liputan media massa lumayan gencar, tanggapan masyarakat serta otoritas-otoritas terkait tampak biasa saja. Selain skalanya belum besar, barangkali sebagian di antara kita sudah mulai terbiasa menghadapi peristiwa-peristiwa semacam itu sehingga perhatian pun berkesan ala kadarnya, karena telah terjadi semacam "kekebalan rasa". - Mestinya kita tidak boleh mengecilkan arti bencana. Setiap peristiwa yang terjadi pada masyarakat harus diberi perhatian serta ditanggapi secara serius, karena menyangkut nasib atau kehidupan manusia. Simpati dan empati perlu terus diasah, bukan hanya pada anggota masyarakat, melainkan juga para pejabat yang berwenang dan penentu kebijakan. Jangan sampai muncul pernyataan yang bernada mengecilkan atau bahkan meremehkan suatu bencana alam, walaupun dari sisi harfiah memang tidak besar. Dalam kamus kemanusiaan sesungguhnya tidak ada istilah bencana alam kecil, sedang, atau besar. Kalaupun ada pengklasifikasian, maka hanya untuk memudahkan, tetapi penanganannya tetap harus benar-benar optimal. - Hingga kini masih sering muncul komentar bernada ''mengecilkan'' peristiwa yang merupakan bencana bagi rakyat. Tujuannya barangkali tidak salah, yakni menenangkan situasi atau mendinginkan suasana. Namun, dalam kehidupan yang makin transparan, bahkan hampir tiada lagi sekat antara wilayah satu dan wilayah lain akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, komentar yang bernada membantah tersebut terasa kuno. Muncul penilaian, cara-cara demikian lebih sebagai upaya menyelamatkan muka, karena kegagalan mengantisipasi serta menangani segera kasus-kasus buruk di lapangan. Sekarang jelas bukan waktunya terus-menerus membela diri, meskipun nyata-nyata salah sembari mencari-cari kambing hitam. - Memasuki bulan Januari dan Februari, semua pihak dituntut lebih waspada, karena diperkirakan curah hujan kian meningkat, bahkan di beberapa wilayah di atas normal. Banjir, longsor, dan angin ribut pun mengancam dengan intensitas yang lebih tinggi. Walaupun berulang-ulang telah diingatkan, sudah siapkah kita menghadapi segala kemungkinan? Kesiapan itu menyangkut tindakan tanggap darurat, logistik, penanganan korban, dan sebagainya. Lembaga atau instansi-instansi terkait tentu sudah mempunyai rencana dan strategi tersendiri. Namun selama ini masih sering terjadi keterlambatan penanganan, tumpang-tindih antarlembaga, serta keterabaian pascabencana sehingga semua berlangsung tidak sesuai dengan harapan. - Dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana itu, dibutuhkan manajemen tersendiri, mulai perencanaan, penanganan, hingga evaluasi. Peran satuan koordinator pelaksana penanganan bencana alam di tiap daerah harus dioptimalkan. Pos-pos yang siap bergerak cepat perlu disiagakan di wilayah-wilayah yang telah dipetakan rawan terjadi bencana alam sehingga begitu ada kejadian bisa langsung melaksanakan tindakan tanggap darurat. Agar semua berjalan baik dibutuhkan keterpaduan dan keseriusan semua pihak, yang terkait dengan penanganan masalah bencana alam. Kita tidak meragukan keterpaduan dan keseriusan yang telah ditunjukkan selama ini, tetapi mungkin masih perlu ditingkatkan lagi. - Tentu kita tidak menginginkan bencana apa pun terjadi, baik di Jateng maupun daerah-daerah lain di Tanah Air. Tetapi, kendati bisa diprediksi berkat bantuan perangkat dan peralatan canggih, sering bencana yang datang membuat kita terkaget-kaget, karena intensitasnya yang tidak sesuai dengan perkiraan. Karena itulah, sekali lagi dibutuhkan manajemen bencana yang rapi untuk mengantisipasi sejak jauh hari. Mungkin perlu pula dimasukkan di dalamnya penanganan wabah-wabah penyakit yang biasa muncul bersamaan dengan bencana alam tersebut. Selain banjir, longsor, dan angin ribut, ada demam berdarah, malaria, kolera atau muntah berak, flu burung, dan sebagainya yang menjadi ancaman di depan mata. |